"Mereka telah melihat teman-teman dan keluarganya mati di depan mata atau terkubur di bawah reruntuhan rumah"

Anak-anak di Aleppo, Suriah (13/12/2016. Reuters)
Perang, kekerasan, dan pertumpahan darah selama 6 tahun di Suriah telah menyebabkan tekanan kesehatan mental pada anak-anak.

Dampak ini akan dirasakan selama beberapa dekade, menurut lembaga Save the Children, Selasa (7/3).

Laporan dibuat dari survei kesehatan mental terbesar di wilayah Suriah selama perang. Hasil menunjukan, anak-anak semakin lemah karena ketakutan atau kemarahan.

Sebagian besar anak-anak (2/3 diantaranya kehilangan orang yang dicintai, rumah dibom, atau terluka) menunjukan tekanan emosional yang parah dan tidak mendapat dukungan pemulihan psikologis.

Karena orang tuanya juga mengalami pukulan emosi.

"Orang tua mereka (bahkan masih) berjuang untuk mengatasi (emosi pribadi) nya", menurut laporan.

Efek yang muncul beragam, mulai dari sulit tidur hingga perilaku menyakiti diri atau usaha bunuh diri. Beberapa bahkan kehilangan kemampuan berbicara.

Penelitian dilakukan dengan wawancara di tujuh provinsi kepada lebih dari 450 anak-anak, orang tua, guru, dan psikolog.

Ini dilaukan terutama di daerah oposisi seperti Idlib dan Aleppo, dan wilayah Kurdi, Hasakah.

Hasil wawancara menunjukkan, sebagian besar anak menjadi lebih agresif, atau menunjukkan gejala gangguan stres pasca-trauma.

"Anak saya sering bangun dengan takut saat tengah malam. Dia bangun dan berteriak", ujar Firas, ayah dari seorang anak laki-laki tiga tahun.

Konflik Suriah menewaskan ratusan ribu orang, membuat lebih dari 11 juta warga menjadi tunawisma. Menciptakan krisis pengungsi terburuk di dunia.

Beberapa anak terpaksa bergabung dengan kelompok bersenjata agar bertahan hidup, ujar Save the Children.

"Mereka telah melihat teman-teman dan keluarganya mati di depan mata atau terkubur di bawah reruntuhan rumah", tulis laporan itu.

Jika tidak ditangani, trauma harian bisa memunculkan konsekuensi lainnya, seperti mengganggu perkembangan otak dan cenderung menyebabkan masalah kesehatan seperti depresi dan penyakit jantung.

Kurangnya sekolah menambah buruk kondisi ini. Satu dari tiga sekolah sudah menjadi reruntuhan, digunakan untuk penampungan pengungsi, atau berubah menjadi pangkalan militer dan ruang penyiksaan.

Mengutip salah satu guru di kota Madaya yang terkepung rezim, ia mengatakan bahwa muridnya kerap "menggambar anak-anak yang dibantai dalam perang". (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.