Raja Salman terkenal sebagai pemimpin dermawan, karena setiap kunjungannya selalu disumbangkan jutaan Dollar untuk menyokong kemajuan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat di sebuah negara

Salman bin Abdulaziz sewaktu muda
Sekitar 81 tahun lalu, lahirlah pemimpin besar dunia Islam modern bernama Salman bin Abdulaziz al-Saud.

Ia lahir dari seorang ibu keturunan bangsawan klan al-Sudairi, Hassa binti Ahmad al-Sudairi, pada 31 Desember 1935 di Riyadh. Sedangkan ayahandanya adalah Raja Abdulaziz bin Abdulrahman al-Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern..

Salman kecil lekat kehidupannya dengan nuansa Islami. Ia mulai menimba ilmu di sekolah yang didirikan ayahnya sebagai wadah pendidikan bagi para Pangeran Saudi, Princes School di Riyadh.

Di sekolah itu, Salman ditempa dengan pendalaman ilmu agama dan sains modern.

Ia kemudian, melanjutkan pendidikannya di Perancis dan memberikannya banyak perspektif baru yang makin luas.

Semenjak kecil, Salman telah terbiasa dengan hidup di lingkungan yang berdisiplin tinggi. Maka tak heran jika dirinya bisa menjadi penghafal Qur'an di usia 10 tahun, atau 22 Juli 1945.

Bahkan, Salman juga dikenal sebagai seorang yang selalu khatam Al-Qur'an 3 kali tiap bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilaporkan Arabnews.

Salman tumbuh dewasa dengan semakin matang. Diantaranya, ia mulai diberi kepercayaan memegang amanah di pemerintahan. Posisi pertama yang ditunaikannya adalah menjadi Wakil Gubernur Riyadh di tahun 1954.

Kemudian, ia menjabat sebagai Gubernur di ibukota Saudi itu pada 1963 hingga tahun 2011.

Salman ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri kedua, sekaligus menjabat sebagai Menteri Pertahananan Saudi pada 5 November 2011.

Setelah kematian kakaknya, Nayef bin Abdulaziz, ia dinobatkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan Saudi, 'Pangeran Mahkota'.

Cinta Al-Qur'an
Meskipun disibukkan berbagai tanggung jawabnya sebagai pemimpin Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman tidak lantas mengabaikan kecintaannya kepada Kalamullah.

Selain menjadi hafidz, ia juga aktif mendorong pendalaman agama generasi muda di negaranya.

Hal itu dibuktikan ketika ia mulai menginisiasikan lomba menghafal Al-Qur'an bertajuk “Prince Salman Prize for Qur'an Memorization” bagi anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan di seantero Saudi pada 1989.

Perhelatan akbar yang diambil dari namanya itu digelar rutin setiap tahun di bawah naungan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, dan Dakwah.

Tujuannya tak lain adalah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Qur'an pada generasi muda, serta untuk mempererat persaudaraan umat Islam melalui ayat suci.

Khadamul Haramain (pelayan tanah suci) dan Peduli kemanusiaan
Pelayan dua kota suci Makkah dan Madinah atau Khadamul Haramain, merupakan julukan yang yang disematkan kepada para Sultan Ayyubiyah, para sultan Mesir Mamluk dan para Sultan Utsmaniyah, untuk penguasa di tanah suci.

Kemudian, julukan tersebut kembali digunakan para raja Saudi untuk menggambarkan peran Raja sebagai pengurus Mekkah dan Madinah, lokasi dua masjid suci bagi Umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Raja Saudi yang pertama mendapat gelar Khadamul Haramain adalah Fahd bin Abdul Aziz, tahun 1986.

Raja Fahd mengganti istilah “Paduka Yang Mulia” menjadi “Pelayan Dua Kota Suci”.

Selanjutnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz sebagai pengganti Raja Fahd juga menggunakan gelar tersebut pada 2015.

Keduanya adalah kakak Raja Salman.

Raja Salman merupakan raja ke-7 Kerajaan Saudi modern. Naik tahta pada pada 23 Januari 2015 menggantikan Raja Abdullah yang wafat.

Selain berjasa di bidang agama dan politik Islam, Raja Salman juga berjasa sebagai penyokong utama terhadap kegiatan kemanusiaan di negara miskin, atau bermasalah, di dunia.

Diantaranya seperti Suriah, Yaman, Somalia, Sudan, Bangladesh dan Afghanistan.

Sebagaimana pendahulunya, Raja Salman terkenal sebagai pemimpin dermawan, karena setiap kunjungannya selalu disumbangkan jutaan Dollar untuk menyokong kemajuan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat di sebuah negara.

Raja Salman aktif mendukung Syaikh bin Baz Foundation, memimpin dewan pengawas Pusat Penelitian Madinah.

Selain itu, ia juga merupakan ketua dari 'King Salman Centre for Disability Research' yang peduli pada peningkatan kualitas hidup para difabel atau orang cacat.

Hal itulah, yang membuat Raja Salman sempat mendapat banyak pujian di PBB.

Raja Salman bahkan mendapat banyak penghargaan atas kepeduliannya dalam kegiatan sosial kemanusiaan.

Diantaranya adalah Penghargaan dari The Handicapped Children Association untuk pelayanan terhadap  kemanusiaan di Arab Saudi (1995), The United Nations Shield atas kontribusi penanggulangan kemiskinan di dunia (1997), The Bahrain Award untuk kinerja kemanusiaan (2008) dan sederet kehormatan lainnya.

(Sumber: Pikiran Rakyat/Nurul Nur Azizah, dengan beberapa perubahan)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.