Muslim Sunni percaya, pemerintahan yang dipegang Syi'ah pasca invasi AS melakukan diskriminasi. Mereka memperkuat pengaruh Syi'ah di tubuh militer dan mendorong penguatan milisi

politisi Sunni Irak Khamis Khanjar (Reuters)
Politisi Sunni terkemuka, pada Senin (13/3) memperingatkan AS bahwa percepatan serangan militer di Mosul barat dalam melawan ISIS dapat menyebabkan korban sipil.

Khamis Khanjar, menggunakan pengaruhnya untuk melobi pemerintah AS dan Irak agar memperhitungkan korban sipil.

Sedikitnya, 3.500 warga tewas sejak serangan ke bagian barat kota bulan lalu.

"Ada banyak korban karena (pasukan) mempercepat operasi militer dan kami melihat ini sebagai kesalahan besar. Warga merasa takut terhadap operasi militer yang berlangsung, lebih dari yang sudah-sudah", ujar Khanjar.

"Kami berharap koalisi AS tidak buru-buru dengan cara ini tanpa mempertimbangkan kehidupan manusia", tambahnya.

Baik rezim Irak maupun koalisi AS, mengumumkan jatuhnya korban sipil terbesar di Irak sejak AS menginvasi pada 2003.

Khanjar mengatakan, peningkatan korban terutama disebabkan serangan udara dan pemboman asal-asalan di daerah padat.

Sementara pasukan berusaha menembus lebih dalam ke pusat kota. Pertempuran jarak dekat juga terjadi di jalanan. Tapi, 850.000 orang diyakini masih tinggal di dalam kota, ungkap Khanjar.

Dalam fase sebelumnya, serangan berjalan baik dengan kerugian sipil lebih rendah dari perkiraan, menurut Khanjar, mengingat profesionalisme pasukan elit AS.

"Amerika keliru jika mereka berpikir solusi militer cepat adalah strategi terbaik dalam pertempuran ini", tambah Khanjar.

"Ini akan memiliki dampak berbahaya pada fase setelahnya. Warga akan murka dan ISIS akan mendapatkan keuntungan dari korban yang besar itu", kritiknya.

Khanjar adalah salah satu politisi utama dari komunitas Sunni Irak. Ia menghabiskan banyak harta bagi kegiatan amal membantu ribuan pengungsi Sunni.

Ia juga membiayai suku Sunni lokal agar berjuang melawan ISIS ketika pertama kali muncul di Irak.

Pada awal operasi Mosul, Khanjar membiayai 3.000 pasukan Turkmen yang dikenal sebagai Pasukan Pengawal Niniwe.

Khanjar mengungkap, para politisi senior dan partai-partai Sunni Irak telah bertemu pekan lalu di Ankara. Mereka membahas rekonsiliasi nasional dalam periode pasca-Mosul.

Dalam pertemuan itu, disepakati harus ada kesempatan meredakan konflik sektarian di Irak dan mengembalikan kepercayaan Muslim Sunni pada Baghdad.

Ia memperingatkan, memperdalam kekecewaan Sunni Irak hanya akan menjauhkan mereka serta memperburuk masalah keamanan.

Bahkan, dapat memunculkan kelompok garis keras lainnya setelah militan ISIS dikalahkan.

"Kecuali ada proses politik yang mengembalikan kepercayaan Sunni di negara ini.. Setelah ISIS mungkin muncul organisasi yang lebih ekstrim", katanya.

Muslim Sunni percaya, pemerintahan yang dipegang Syi'ah pasca invasi AS melakukan diskriminasi. Mereka memperkuat pengaruh Syi'ah di tubuh militer dan mendorong penguatan milisi. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.