Total, sekitar 900.000 warga Suriah berlindung di Idlib, atau hampir setengah penduduk provinsi itu adalah pengungsi

Rumah tenda para pengungsi di Kamp Atma, dekat perbatasan Turki di Idlib (5/2/2016. Reuters)
Perang Suriah semakin memanas sejak Rusia mulai melancarkan serangan udara mendukung rezim Basyar al-Assad.

Serangan brutal tersebut membuat lebih banyak warga mengungsi ke kamp-kamp di utara Idlib.

Assad merebut Aleppo timur pada Desember 2016, memaksa oposisi dan keluarga mereka pergi ke Idlib. Oposisi di sekitar Damaskus juga diusir keluar kampungnya.

Bahkan data PBB menunjukkan, beberapa pengungsi di dekat perbatasan inipun ada yang berasal dari kota al-Bab, yang dulu diduduki ISIS.

Total, sekitar 900.000 warga Suriah berlindung di Idlib, atau hampir setengah penduduk provinsi itu adalah pengungsi, menurut PBB.

Secara keseluruhan, konflik Suriah membuat 11 juta orang mengungsi, setengahnya di dalam negeri dan sisanya ke luar negeri.

Turki baru-baru ini mempercepat pembangunan ratusan km dinding perbatasan demi alasan keamanan dan mencegah gelombang pengungsi ke luar negeri.

Membuat pengungsi terjebak di sekitar garis perbatasan.

Terjebak diantara pertempuran Suriah dan perbatasan Turki, membuat Fawaz Atmeh (33) dan 11 anggota keluarganya bersiap tinggal di pengasingan seumur hidup.

"Kami berada di depan pintu Turki, tetapi dilarang masuk. Turki telah membuat dinding, dan melarang siapa saja mendekatinya", ujar Atmeh.

Atmeh adalah salah satu pengungsi awal yang lari dari gempuran Rusia. Mereka harus berlindung di tenda-tenda tanah berawa dekat perbatasan.

"Di arah lain (ke dalam Suriah) kami hanya bisa bergerak sekitar 15 km dari kamp", karena ada pertikaian oposisi di Idlib.

"Dan kami tidak bisa kembali ke rumah. Rezim mengendalikan daerah itu. Saya diburu oleh rezim, begitu pula dengan keluarga saya. Sebagian besar warga dituduh "teroris" karena mendukung oposisi", ia mengisahkan.

Menurut Atmeh, jumlah tenda terpal kini bertambah dua kali lipat dari sebelumnya.

Mereka berusaha membuat tempat tinggal layak huni, menggunakan tirai sebagai dinding dan selimut sebagai lantai.

Mohammad Musa (25) dan keluarganya tinggal hampir satu tahun bertetangga dengan Atmeh.

Ia pindah ke tenda lain di tanah lebih tinggi beberapa bulan lalu agar menghindari basah dan lumpur, bersama istri dan bayinya yang berusia 6 bulan.

Sampah berserakan di sepanjang parit dangkal sekitar kamp. Anak-anak bermain bola, sedangkan para laki-laki duduk di kursi plastik dalam melewatkan waktu hariannya.

Agar bertahan, mereka masih mengandalkan pengiriman makanan yang tidak pasti dari LSM internasional atau santunan penduduk setempat.

Tidak ada pekerjaan tersedia di daerah sekitar itu. Rasa takut akan pergolakan jua selalu muncul, kata Musa.

"Ketika ada bentrokan antar faksi-faksi (oposisi), itu terjadi cukup dekat. Kami khawatir pada anak-anak dan wanita. Jika peluru mengenai salah satu tenda, itu bisa menembus hingga 10 lainnya", keluhnya.

Orang-orang yang tidak ingin menunggu atau putus asa, kerap nekat menyeberangi perbatasan secara diam-diam atau ilegal. Ini berisiko ditembak oleh pasukan Jandarma Turki yang menjaga perbatasan mereka.

Kelompok pemantau SOHR melaporkan, beberapa korban tewas atau terluka jatuh akibat ditembak tentara Turki.

Turki memblokir perbatasan Suriah dengan pagar, galian dan parit, untuk menghentikan ISIS dan milisi Kurdi.

Di Suriah, pengungsi menjadi perdebatan tersendiri. Bagi sebagian kelompok pejuang, lelaki yang keluar negeri mengungsi untuk kepentingan pribadi sangat tidak dihargai.

Jika tanpa uzur atau keperluan, mereka dianggap "lari dari perjuangan". Karena seharusnya yang berhak mengungsi atau tinggal di Turki adalah kaum perempuan dan anak-anak.

Laki-laki diharapkan tetap berjuang di dalam negeri semampunya. Seperti menjadi relawan atau pekerjaan-pekerjaan lain di bidangnya. (Reuters/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.