Ratusan ribu tinggal di negara-negara Teluk yang tidak masuk dalam Konvensi Pengungsi 1951, seperti Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab

Pengungsi Suriah di kamp pengungsi Zaatari, dekat Mafraq, Yordania, perbatasan Suriah (28/3/2017. REUTERS)
Jumlah pengungsi akibat perang sipil Suriah ke negara-negara tetangga saat ini mencapai sekitar 5 juta jiwa, menurut badan pengungsi PBB pada Kamis (30/3).

Warga Suriah banyak mengungsi ke Turki, Lebanon, Yordania dan Irak sejak awal konflik pada 2011.

Konflik semakin rumit dengan munculnya ISIS, serta pendukung asing Assad, terutama serangan udara Rusia.

Setelah jumlahnya menurun pada 2016, pengungsi Suriah tahun ini meningkat akibat direbutnya kota Aleppo timur oleh militer pemerintah dan sekutunya (Rusia-Iran).

"Ini bukan tentang jumlah, tapi tentang kemanusiaan", ujar juru bicara UNHCR Babar Baloch.

Menurutnya, konflik ini sudah berlangsung lebih lama dari Perang Dunia II.

Tahun lalu, UNHCR meminta berbagai negara membantu menyiapkan pemukiman, setidaknya bagi 10 persen pengungsi Suriah yang dianggap paling rentan.

Sejauh ini hanya 250.000 slot tempat tinggal kamp yang ditawarkan.

Hampir 1,2 juta pengungsi dari seluruh negara memerlukan pemukiman baru pada 2017, dimana yang terbesar atau sekitar 40 persen adalah warga Suriah.

Kekhawatiran nasib mereka bertambah dengan adanya kebijakan imigrasi Trump.

“Sudah jelas bahwa masyarakat internasional telah gagal mengakhiri konflik di Suriah”, ujar Alun McDonald, juru bicara kawasn TimTeng untuk Save the Children.

“Situasi di dalam negeri masih belum aman bagi pengungsi untuk pulang. Kami melihat banyak orang yang tewas setiap hari”, keluhnya.

Menurutnya, banyak elemen masyarakat internasional gagal mengurusi pengungsi, bahkan menutup perbatasan untuk menyuruh mereka pergi.

"Kami berusaha lewat jalur hukum agar warga Suriah dapat melakukan perjalanan ke negara-negara lain, sehingga mereka tidak berakhir mati di laut Mediterania", ujar Baloch.

"Harapan kami adalah, (semua pihak) fokus kembali pada penderitaan pengungsi, menunjukan solidaritas, dan berbagi tanggung jawab dengan semua negara", pintanya.

Warga Suriah melarikan diri ke Eropa dalam jumlah besar. Jalur ini memiliki risiko tinggi penyelundupan dan kematian.

884.461 klaim suaka dibuat antara April 2011 dan Oktober 2016. Hampir dua pertiga klaim berada di Jerman atau Swedia.

Jumlah terbesar tinggal di Turki, yaitu sekitar 2,9 juta pengungsi Suriah yang terdaftar, menurut PBB.

Ratusan ribu lainnya tinggal di negara-negara Teluk yang tidak masuk dalam Konvensi Pengungsi 1951, seperti Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab, sehingga mereka tidak tercatat sebagai pengungsi.

Badan kemanusiaan PBB baru menerima 6% dana ($ 298 juta dari $ 4,6 miliar) untuk membantu pengungsi Suriah dan menyokong negara tuan rumah. (Reuters/Arabnews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.