Menurut oposisi, rezim dan milisi Syi'ah dukungan Iran terus membombardir wilayah dekat Damaskus, Homs, Dara'a dan Idlib

juru bicara FSA Osama Abu Zaid.
Oposisi Suriah tidak akan menghadiri pembicaraan damai Astana, pada Selasa (14/3).

Mereka menyalahkan Rusia karena enggan mengakhiri serangan udara terhadap warga sipil di wilayah oposisi.

Rusia juga dianggap gagal dalam memberi tekanan pada rezim Suriah agar mematuhi gencatan senjata, menurut juru bicara oposisi Osama Abu Zaid.

"Keputusan tidak hadir ialah karena Rusia melanjutkan kejahatan di Suriah terhadap warga sipil dan mendukung rezim Assad", katanya.

Keputusan telah diinformasikan pada Turki, pendukung utama oposisi.

Kolonel Ahmad Othman, Kepala brigade oposisi Sultan Murad dukungan Turki, mengatakan pihaknya sedang menunggu respon Rusia atas tuntutan itu.

Surat tersebut meminta Moskow sebagai penjamin pelanggaran gencatan senjata.

"Tidak ada yang sudah dilaksanakan sejauh ini", kata Othman.

Oposisi Suriah, pada Sabtu (11/3) menyerukan penundaan pembicaraan damai di Kazakhstan.

Pertemuan seharusnya dilakukan setelah rezim Assad dan sekutunya menaati gencatan senjata baru pada 7-20 Maret.

Menurut oposisi, rezim dan milisi Syi'ah dukungan Iran terus membombardir wilayah mereka dekat Damaskus, Homs, Dara'a dan Idlib.

"Moskow tidak memenuhi komitmennya. Permintaan utamanya adalah menghentikan pemboman dan pengusiran warga", tambah Othman.

Kesepakatan "evakuasi" tercapai hari Senin (13/3) di al-Waer, Homs.

Namun, kesepakatan tersebut terlihat sebagai penyerahan paksa, mengingat pemboman terjadi tanpa henti oleh jet rezim Assad.

"Sepertinya Rusia mengundang kami ke Astana, kemudian melakukan pemindahan paksa warga al-Waer. Moskow tidak menepati janjinya", kata Mohammad Alloush, kepala delegasi faksi bersenjata.

Alloush menegaskan, mereka tidak akan menghadiri perundingan.

"Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa keinginan Rusia atas solusi politik hanya muncul di media saja. Mereka harus mengubah kebijakan jika ingin mencari solusi", tambah Alloush.

Secara terpisah, Juru bicara Komite Tinggi Negosiasi Salem al Muslet, juga menyebut Rusia gagal menekan rezim Suriah dan sekutunya. Itulah mempengaruhi keputusan oposisi untuk tidak datang ke Kazakhstan.

"Jika mereka (rezim) pergi ke Astana dan serangannya terus terjadi, ini akan menjadi masalah. Jika Rusia ingin perundingan Astana berhasil, sebagai penjamin harus mengambil langkah tegas", ujarnya dalam siaran TV Al-Hadath.

"Ada beberapa jam tersisa sebelum konferensi dimulai, dan sesuatu bisa terjadi", tambahnya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.