Selain membahas kemerdekaan Palestina, pertemuan Arab ini juga singgung ancaman Iran dan Syi'ah

Raja Yordania Abdullah II menyambut Perdana Menteri dan Wakil Presiden Uni Emirat Arab dan penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum dalam upacara di Bandara Queen Alia, Amman, Yordania (28/3/2017. REUTERS)
Para pemimpin Arab tiba di Yordania pada Rabu (29/3) dalam acara puncak Pertemuan Laut Mati. Pertemuan digelar untuk menegaskan komitmen terhadap berdirinya negara Palestina.

Pertemuan ini diperkirakan memiliki jumlah lebih besar dibanding KTT Arab lalu, menurut pejabat Yordania.

Para pemimpin bersatu mendukung solusi dua-negara dalam konflik Israel-Palestina.

"Kami prihatin, harus ada konsensus Arab pada kasus Palestina agar tergambar jelas dalam diskusi dengan pemerintahan Amerika yang baru", ujar Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki.

Palestina menginginkan wilayah Yerusalem Timur sebagai ibukota negaranya di masa depan, beserta Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Amerika Serikat juga mengirimkan perwakilan ke pertemuan, ujar Maliki.

Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sisi dan Raja Yordania Abdullah dijadwalkan bertemu segera Trump.

"Isu Palestina adalah isu sentral. Ini adalah akar penyebab konflik di wilayah tersebut dan resolusi adalah kunci perdamaian dan stabilitas. Kami berharap, mampu meluncurkan upaya negosiasi yang serius", ujar Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi.

Pembicaraan damai Israel-Palestina sendiri telah dibekukan sejak tahun 2014.

Ketidaksepakatan terbesar antara negara-negara Arab adalah mengenai Iran.

Negara itu menjadi sekutu rezim Suriah dan Irak. Militan Syi'ah Hezbollah juga telah mendominasi Lebanon. Iran dianggap sebagai musuh oleh Saudi dan beberapa negara Muslim Sunni lainnya.

Iran dan Saudi mendukung pihak yang berlawanan dalam perang Suriah dan Yaman. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.