Pengungsi di Yunani terpaksa berjuang sendiri mencari kebutuhan dasar seperti selimut, tempat kering untuk tidur, makanan, air hangat dan pelayanan kesehatan

Seorang anak tidur di bekas bandara Hellenikon, tempat sementara bagi pengungsi dan migran di Athena, Yunani (13/7/2016. REUTERS)
Badan amal internasional Save The Children menemukan fakta mengejutkan kondisi anak-anak pengungsi di kamp Yunani.

Menurut laporan itu, ditemukan anak-anak yang berusaha bunuh diri dengan cara melukai tubuhnya sendiri, juga penggunaan obat-obatan.

Mereka ingin mengakhiri "penderitaan tak berujung", menurut lembaga itu, Kamis (15/3).

"Kesehatan mental mereka dengan cepat memburuk, karena kondisi yang diciptakan oleh kesepakatan ini", ujar laporan, terkait kesepakatan Uni Eropa dan Turki untuk membendung pengungsi.

Kondisi di kamp-kamp Yunani menyebabkan peningkatan usaha menyakiti diri, agresifitas, kecemasan dan depresi.

"Salah satu perkembangan yang paling mengejutkan dan mengerikan adalah, adanya peningkatan upaya bunuh diri atau menyakiti diri di kalangan anak berumur sembilan tahun", ungkap Save The Children.

Seorang anak 12 tahun bahkan mendokumentasikan usaha bunuh dirinya setelah ia menyaksikan orang lain mencoba melakukan itu.

Pada 2015, satu juta pengungsi dan migran dari Suriah, Irak, Afghanistan dan lainnya mencapai Eropa, menyeberang ke pulau-pulau Yunani dari Turki.

Tapi aliran berhenti sejak kesepakatan Uni Eropa-Ankara berlaku pada 20 Maret 2016.

Berdasarkan kesepakatan, siapapun yang menyeberang ke Yunani tanpa dokumen dapat dideportasi ke Turki, kecuali mereka memenuhi syarat suaka.

Namun, prosedur panjang membuat sekitar 14.000 pengungsi terdampar di lima pulau Yunani, melebihi kapasitas tempat itu hingga 2 kali lipat.

Menurut Save the Children, kondisi di kamp penuh sesak seperti tempat penahanan.

Pencari suaka terpaksa berjuang sendiri mencari kebutuhan dasar seperti selimut, tempat kering untuk tidur, makanan, air hangat dan pelayanan kesehatan.

"Kondisi hidup membuat mereka kehilangan harapan dan merasa seperti binatang...", ujar seorang anggota staf Praksis, dalam laporan.

Anak-anak kehilangan harapan untuk secepatnya meninggalkan Yunani. Mereka menjadi tidak sabaran dan agresif. Beberapa bahkan berpaling pada obat-obatan yang dianggap bisa mengatasi tekanan psikologis.

"Kondisi berubah, anak-anak seharusnya tenang dan penuh mimpi. (Tapi) mereka menjadi orang yang ingin mengancurkan benda, orang lain, bahkan diri sendiri", ujar anggota praksis lain.

"Mereka merasa buruk, seseorang menawarkan pil dan berjanji membuat perasaan lebih baik, dan kemudian mereka mulai bergantung pada obat", ujarnya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.