Jerman dianggap menghalang-halangi warga Turki di sana dari mendukung sistem presidensial Erdogan

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu memberikan pidato di kediaman Konsulat Jenderal di Hamburg, Jerman (7/3/2017. Reuters)
Menteri luar negeri Turki menuduh Jerman memberikan tekanan sistematis pada warga Turki di Jerman. Ini menghambat kampanye referendum bulan depan.

Pada Selasa (7/3), Mevlut Cavusoglu berbicara dengan sekitar 400 warga Turki di kediaman konsulat jenderal di Hamburg.

Sebelumnya, ototritas Jerman telah menutup beberapa tempat yang dijadwalkan untuk kampanye referendum.

"... Jerman menerapkan tekanan sistematis pada warga negara kita. Ini tidak bisa diterima. Kami ingin menganggap Jerman sebagai teman tapi pendekatan anti-Turki ini tidak sesuai dengan persahabatan kami", kata Cavusoglu.

Pidato itu diselingi oleh berbagai teriakan penonton: "Recep Tayyip Erdogan, bangsa ini bangga padamu", "Berdiri tegak, jangan membungkuk, bangsa ini berdiri dengan Anda" dan "Allahu akbar".

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel menolak tuduhan Cavusoglu tentang halangan sistematis, dalam wawancara televisi. Sigmar beralasan pihaknya bertugas "menjamin keamanan".

"Dalam sistem hukum kami, otoritas lokal umumnya bertanggung jawab dalam masalah keamanan", ujar Gabriel, penyiar ZDF.

Ia menyatakan, pihak berwenang Hamburg menutup tempat awal kampanye karena kurangnya fasilitas keamanan kebakaran.

Gabriel juga mengkritik komentar Erdogan karena membandingkan larangan Jerman ini dengan "tindakan fasis" yang berkaitan dengan Nazi.

"Perbandingannya ini tentu saja menjadi skandal", katanya.

Gabriel mengatakan, ia akan mengangkat masalah komentar Nazi ini dalam pertemuannya dengan Cavusoglu, Rabu ini (8/3) di Berlin.

Hubungan antara Jerman dan Turki memburuk sejak insiden kudeta Juli lalu untuk menggulingkan Erdogan.

Ankara menuduh Berlin dan negara Eropa lainnya lambat menentang aksi tersebut.

Uni Eropa, termasuk Jerman, sejak itu mengkritisi secara tajam penangkapan massal dan pemecatan oleh Turki kepada terduga kudeta.

"Jerman tidak perlu memberi pelajaran tentang demokrasi dan hak asasi manusia. Kami tidak pernah ikut campur dalam politik Jerman. Jerman tidak (perlu) ikut campur dalam politik kami, termasuk dalam referendum", kata Cavusoglu di Hamburg.

Menurutnya, Belin menghalangi pendukung Erdogan dalam referendum dan mendukung mereka yang menentang sistem presidensial yang baru.

Padahal, perubahan ini dianggap penting bagi stabilitas Turki, yang memiliki sejarah pemerintahan tidak stabil.

"Mereka memboikot pemilih 'ya' dan mendukung pemilih 'tidak' dalam referendum kami", tuduh Cavusoglu.

Pejabat Jerman menyangkal adanya motif politik dalam pembatalan aksi unjuk rasa. Kanselir Angela Merkel mengatakan, Jerman akan terus memungkinkan politisi Turki melakukan kampanye referendum, asalkan hukum ditaati.

Pendukung Erdogan mencari dukungan kuat dari sekitar 1,5 juta pemilih Turki di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya untuk memastikan kemenangan di referendum.

Austria telah menyerukan larangan semua aksi unjuk rasa Turki di negara Uni Eropa, dan Belanda juga tidak menyetujui pertemuan di Rotterdam.

"Tidak ada yang bisa menghentikan kita untuk bertemu dengan warga negara, tidak ada yang bisa memutuskan hubungan kami. Kami tidak takut siapa pun. Warga kami di sini adalah koneksi kita yang paling penting dan paling kuat dengan Jerman," kata Cavusoglu. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.