Basil al-Araj (31) dibunuh pasukan Israel di rumahnya. Polisi Israel menyebutnya "teroris" karena dituduh sebagai otak penyerangan

Ilustrasi (Al-Jazeera)
Para pengunjuk rasa di Ramallah, Tepi Barat, menyerukan keadilan atas kematian seorang aktivis Palestina di tangan pasukan keamanan Israel.

Unjuk rasa dilakukan Senin (6/3), sehari setelah Basil al-Araj (31) dibunuh pasukan Israel di sebuah rumah di al-Bireh, pinggiran Ramallah.

Dua warga Palestina lainnya terluka oleh tembakan dalam bentrokan dengan Israel, menurut sumber-sumber medis Palestina.

Araj berasal dari al-Walaja di Bethlehem. Ia dipandang "dekat dengan Islamis" dan telah menghabiskan beberapa bulan di penjara Otoritas Palestina, menurut sumber keamanan Palestina.

Polisi Israel mengklaim, personil keamanannya berada di sana untuk menangkap Araj, tapi kemudian menemukan dua senjata api di rumahnya.

Di Twitter, Micky Rosenfeld, juru bicara polisi Israel, mengatakan: "Teroris Palestina yang tewas dalam operasi polisi perbatasan CT (kontraterorisme) di Ramallah, telah merencanakan serangan terhadap warga sipil dan pasukan keamanan"

Juru bicara polisi Israel lainnya menuduh Araj sebagai "kepala perencana serangan terhadap Israel".

Namun, paman Araj, Khalid al-Araj, membantahnya. Menurutnya, Araj tidak memiliki kepribadian seperti seorang penyerang.

Keponakannya adalah seorang intelektual yang gemar membaca dan (melakukan) penelitian, khususnya sejarah dan geografi Palestina. Araj tidak masuk dalam faksi tertentu, jelas Khalid.

Mustafa Barghouti, seorang aktivis non-kekerasan Palestina dan kepala partai politik Initiative Nasional Palestina, menyebut kematian Araj sebagai "tindakan pembunuhan di luar hukum".

"Dikatakan ada perlawanan dan bentrokan, tapi apa yang saya temukan ialah, Israel satu-satunya pihak yang menembak", katanya.

"Jika Araj punya kesempatan menembak, ia tak akan mampu menembak lebih dari satu peluru. Rumah itu benar-benar dibombardir dengan peluru Israel. Pihak Israel sedang mencoba mengklaim adanya tembakan balasan", lanjut Barghouti.

Barghouti juga heran mengapa tentara Israel memasuki pusat Ramallah, yang seharusnya di bawah kendali Otoritas Palestina.

Penggerebekan oleh tentara dan polisi Israel di Tepi Barat menjadi kontroversi karena sering menyerang ke wilayah blok A.

Sebuah area independen untuk otoritas keamanan Palestina sesuai perjanjian perdamaian Oslo 1993.

"Biasanya tentara Israel mengklaim bahwa memberitahukan dulu sebelum memasuki daerah ini, tapi mereka menerobos ke pusat Ramallah, yang menunjukkan mereka memiliki kontrol penuh di sana", kata Barghouti.

"Ini berarti tidak ada keselamatan atau keamanan bagi warga Palestina", keluhnya.

Sejak Oktober 2015, lebih dari 265 warga Palestina tewas di tangan pasukan Israel, baik dalam serangan terhadap unsur-unsur Israel atau dalam bentrokan.

Pemerintah Zionis mengatakan, sedikitnya 47 orang Israel tewas oleh warga Palestina dalam periode yang sama. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.