Secara implisit, Uni Eropa menentang perubahan konstitusi Turki karena Erdogan dipandang tengah menuju keotoriteran

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Reuters)
Turki tidak akan lagi mengadakan kampanye terbuka di Jerman sebelum referendum 16 April mendatang, menurut pihak penyelenggara.

Sekutu Jerman, Uni Demokrat Turki Eropa (UETD), menyatakan tidak akan menerima kampanye pemerintah Turki.

Pernyataan ini menegaskan penurunan hubungan antara NATO dan Turki menjelang referendum konstitusi itu.

"Kami tidak akan mengatur acara lain dengan para pejabat Turki sebelum referendum", ujar Presiden UETD Zafer Sirakaya.

Sumber kementerian luar negeri Jerman mengatakan, langkah ini dapat menjadi awal baik bagi 1,4 juta warga Turki di Jerman yang berhak mengikuti referendum.

Pemilihan akan berlangsung di 13 konsulat dan situs lainnya di seluruh Jerman pada 27 Maret-9 April.

Di Turki, pejabat Partai AK menyatakan masih ada beberapa "kegiatan kampanye referendum" di Eropa minggu ini, serta akan lebih fokus di dalam negeri mulai minggu depan.

Erdogan menuduh Jerman menggunakan taktik "Nazi" karena menjegal kampanye terbuka oleh menteri Turki di sana.

Sebaliknya, Merkel menuntut Ankara menghentikan perbandingan tersebut, tapi Erdogan berulang kali tetap menyampaikannya.

"Sudah cukup", ujar Volker Bouffier, wakil ketua Uni Demokratik Kristen Merkel (CDU), pada Selasa (21/3).

"Erdogan dan pemerintahannya tidak diterima di negara kami, dan itu harus dipahami", tambah Bouffier, perdana menteri negara Hesse.

Menurut laporan media, Erdogan berencana mengunjungi Jerman bulan ini dengan maksud menggalang dukungan, tapi Berlin belum menyetujui permintaan kunjungannya itu.

Bouffier mengatakan, kunjungan Erdogan akan mendatangkan masalah keamanan.

"Seseorang yang menghina kami tidak bisa berharap bahwa kami akan meminta polisi melindunginya", katanya.

Reiner Haseloff, anggota lain CDU setuju dengan kritik Bouffier.

"Membandingkan kami dengan Nazi tidak dapat diterima. Itu tidak dapat diterima", ujarnya.

Sebelumnya, Berlin akan mencabut izin acara yang sudah disetujui jika Ankara tidak menghormati hukum dengan melakukan penghinaan, menurut Menteri Luar Negeri Sigmar Gabriel.

Wakil Presiden Komisi Uni Eropa Frans Timmermans mengatakan jika para pejabat Uni Eropa bersatu menolak perbandingan Nazi.

"Komentar Presiden Erdogan tentang Jerman dan Belanda tidak baik. Kami tidak ingin dibandingkan dengan Nazi", katanya.

Belanda lebih dulu terlibat sengketa panas yang sama dengan Turki

Tapi Selasa kemarin, Erdogan mengulang lagi kritiknya untuk Jerman dan negara Eropa lain, bahwa "fasisme" Eropa saat ini menyerupai era pra-Perang Dunia II.

Ia menegaskan, Turki tidak bisa ditekan dengan ahal lain, seperti kesepakatan migran senilai $ 6 milyar, agar menghentikan pengungsi ke Yunani.

"Mereka tidak bisa mengancam kita (Turki) dengan hal-hal itu lagi. Mari kita beralih ke sistem baru pada tanggal 16 April, maka akan ada Turki yang sangat berbeda", ujar Erdogan, dalam pidatonya.

Komisaris Uni Eropa Johannes Hahn menilai Turki sebenarnya punya prospek bergabung jika tidak menjauh dari "nilai-nilai Eropa".

Menurut Hahn, Uni Eropa berulang kali menyuarakan keprihatinan terkait sikap Erdogan yang dianggap makin otoriter.

Benih-benih perenggangan sudah nampak sejak Juli tahun lalu, ketika terjadi kudeta berdarah yang gagal.

Sikap keras Erdogan terhadap para terduga kudeta dikritik oleh Uni Eropa. Sedangkan Turki mengecam Uni Eropa yang tidak memberikan solidaritas, bahkan dianggap membela pelaku kudeta yang dihukum.

Ankara juga kesal dengan diizinkannya bermacam aksi kelompok PKK di Eropa, padahal di Turki pemberontak Kurdi itu terlarang dan dianggap sebagai teroris.

Soal referendum perubahan konstitusi, kekuasaan Erdogan akan tambah kuat karena sistem pemerintahan Turki bergeser ke tangan presiden.

Secara implisit, Uni Eropa menentangnya karena dipandang menuju keotoriteran. Sejumlah kampanye pada warga Turki di luar negeri dipersulit, terutama Jerman dan Belanda. (Reuters/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.