Awal revolusi Suriah, selama berminggu-minggu jatuh korban setiap hari karena semua demonstrasi damai dihadapi rezim dengan bidikan sniper dari gedung-gedung tinggi

Suasana Aleppo timur di awal revolusi
Jum’at itu, sedari pagi udara panas membakar hati muslimin Aleppo. Tak ada suara kecuali bisik-bisik di sudut gang serta desir angin yang menandai masuknya musim panas.

Musim dingin yang masih menyisakan kesejukan tak mampu meredakan isi otak mereka yang lama sudah mendidih

Telah sampai di telinga, pertempuran pecah dimana-mana!

Di Banias, Syaikh Anas Airud memimpin pasukan kecilnya melabrak posisi-posisi tentara Syi’ah Nushairiyah. Pertempuran pertama pecah di kolong jembatan, Ma’rakah Jisr yang terkenal itu.

Seribuan militer bersenjata lengkap dipukul ratusan mujahidin amatir yang bahkan banyak dari mereka baru melihat senjata hari itu. Berbekal keikhlasan dan petunjuk alim ulama, kemenangan demi kemenangan Allah turunkan bagai hujan deras di musim kemarau!

Mengherankan semua orang, sekaligus mengobarkan semangat kaum muslimin, dan memaksa setiap orang yang mengaku beragama Islam terlibat di dalamnya kalau tidak mau seumur hidup dicap banci!

Aksi syaikh Anas berlanjut hingga seizin Allah menduduki barak militer di pinggiran kota, memaksa ribuan tentara rezim eksodus, kocar kacir kalah kuat melawan peluru dan teriakan takbir petani, tukang angon Kambing, tukang koran, guru ngaji, sampai tukang sapu jalan yang dalam semalam langsung menjelma jadi mujahidin hebat!

Di kota-kota lain demikian pula kisahnya. Penduduk Hama yang dikenal bertipikal lugu, polos dan kadang mudah dibahluli.

Tak disangka tak dikira malah terdepan mengobrak-abrik kekuatan besar pasukan rezim yang berpusat di tengah kota! Para serdadu Syi’ah profesional itu terkencing-kencing menghadapi moncong-moncong AK-47 yang dibungkus tauhid dan kemarahan karena Allah!

Dalam seminggu, Hama, yang merupakan salah satu basis terbesar Ikhwanul Muslimin di Suriah, berhasil dikendalikan mujahidin hingga rezim harus meluncurkan jet-jet tempur mereka, membombardir gila-gilaan setiap kerumunan yang berada di jalanan demi melemahkan mental para pejuang!

Berita-berita heroik yang berhembus di pasar-pasar, di kedai kopi. Di kamar-kamar hotel, di masjid-masjid, dimana-mana! Dibawa angin bercampur bau mesiu memenuhi kota Aleppo.

Awal revolusi Suriah, selama berminggu-minggu jatuh korban setiap hari karena semua demonstrasi damai dihadapi rezim dengan bidikan sniper dari gedung-gedung tinggi.

Bahkan ledakan mortir serta roket! Anak-anak kecil bergelimpangan, wanita dan orang tua tumbang berdarah-darah, serta para pemuda diselimuti debu ketika mengevakuasi korban dari gedung-gedung yang runtuh dihajar roket!

Suara-suara kebaikan tak lagi didengar Basyar al-Assad, kepalanya dipenuhi ide gila bumi hangus warganya sendiri demi mempertahankan kekuasaan! Maka dua jam sebelum khutbah dimulai masjid agung Aleppo sudah penuh oleh jama’ah.

Mereka menanti apa yang akan diserukan para ulama. Karena tinggal para ulama yang mereka percayai akan memimpin Suriah masa depan dalam naungan Islam.

Doa-doa dilantunkan sepanjang hari. Lengan-lengan kaum muslimin berusaha menjangkau langit dalam permohonan mereka pada Allah.

“Yang akan terjadi, Terjadilah! Tapi beri kami kekuatan menghadapi masa depan sepahit apapun ya Allah…!”

Lalu dari samping mimbar naik seorang ulama menyeret bungkusan karung besar dan berat. Beliau yang akan berkhutbah dan memimpin shalat jum’at. Selain itu beliau pula yang akan menyampaikan hasil musyawarah dewan ulama kota Aleppo.

Khutbah dimulai berapi-api. Ayat-ayat jihad dibacakan, nasehat-nasehat untuk bersabar dilantunkan, dan surga beserta isinya digambarkan oleh khatib sebagai ganjaran bagi orang-orang yang syahid…

Mafhum lah hadirin, perang akan segera pecah di Aleppo! Suasana tegang, Beberapa jama’ah terbawa suasana, setiap khatib bertakbir, mereka ikut bertakbir:

Allahu Akbar !!!

Allahu Akbar !!!

Allahu Akbar !!!

Mari kita perang!

Tapi kapan?

Sebelum khutbah berakhir, Khatib membuka bungkusan besar yang ia bawa tadi. Didahului teriakan takbir yang keras dan membakar, ia acungkan tinggi-tinggi isi bungkusan miliknya!
AK-47!

Allahu Akbar !!!

Allahu Akbar !!!

Allahu Akbar !!!

Hayya a’lal jihaaaddd…!!!

Khaibar khaibar ya Yahuuud !

Jaisyu Muhammad sauda ya’uuuddd…!

Allahu Akbar…!!!”

Bacaan shalat sang Imam gaduh oleh isak tangis para jama’ah di belakangnya, ayat-ayat jihad yang dibaca semakin menghanyutkan para pendengar pada kondisi emosional tertinggi!

Selesai shalat ratusan pucuk senjata dibagikan pada jama’ah masjid. Para ayah pulang berpamitan pada anak istrinya. Para pemuda mencium tangan orang tuanya lama-lama, semoga doa restu menuntun langkah mereka pada kemenangan dunia serta akhirat!

 Dan para pedagang menutup tokonya dengan tulisan:

“Tutup untuk berjihad!”

“Tutup sampai Assad mati atau kami yang mati!”

Airmata tumpah dimana-mana, melepas kepergian anggota keluarga yang mungkin tidak akan dijumpai lagi!

Sebagian ibu berhati Singa melepas anaknya dengan syukuran kecil-kecilan, bagi-bagi permen berikut seisi kulkas di jalan-jalan.

Dan para istri mengalungkan syal bertuliskan kalimat syahadat di leher kekasihnya sambil mengantar mereka bergabung dengan kelompok masing-masing!

Ini situasi yang belum pernah terjadi, Aura jihad yang menggetarkan! Penuh romantisme dan mengharukan!

Sore itu pecah baku tembak pertama di kota Aleppo. Gugur bunga-bunga ke haribaan, menemui Sang Pencipta Yang Maha Menjanjikan bahwa kebatilan akan kalah oleh yang hak!!!

Hingga 2017 ini, selang setelah lebih dari 7 tahun kemudian, romantisme dan jihad belum juga usai. Bahkan alur cerita macam sinetron yang berpanjang-panjang dan menggelinjang tak berkesudahan terus meluluh lantakkan kota-kota bersejarah hingga ke puing-puing terakhirnya

Oleh: Fathi Yazid Attamimi
Jurnalis lepas perang Suriah (2012)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.