Baru-baru ini, netizen dihebohkan dengan sosok Facebooker bernama Sabar Nababan yang mengaku sebagai 'tuhan'

Ilustrasi pasien skizofrenia (Detikcom)
Baru-baru ini, netizen dihebohkan dengan sosok Facebooker bernama Sabar Nababan yang mengaku sebagai 'tuhan'.

Sabar Nababan bukanlah orang pertama yang mengaku-aku sebagai tuhan atau membuat agama baru. Akar penyebah sikap super nyeleneh mereka adalah skizofrenia, seperti dilansir oleh Detikhealth.

Sebelum Sabar, di tahun 2015, ada pria bernama Indra Okta Permana (35) yang mengaku sebagai "perwujudan tuhan".

Ia menyebarkan ajaran sesat dengan meminta orang-orang di sekitarnya agar menyembah matahari serta berhenti menjalankan ibadah shalat.

Bahkan kabarnya Indra meminta seorang warga untuk membakar kitab suci Al-Qur'an.

Belakangan diketahui ternyata "tuhan" Indra divonis mengidap skizofrenia oleh tim dokter dari RSUD R Syamsudin SH, Sukabumi.

Menurut dr. Tun Kurniasih Bastaman, SpKJ(K), mengaku tuhan atau nabi merupakan salah satu gejala yang lumrah ditemukan pada pasien skizofrenia.

"Bagi kita itu adalah waham (fantasi sesat) yang bersifat agama, tapi itu tidak dengan sendirinya berhubungan dengan keimanan atau agama. Itu kesalahan persepsi. Waham itu sebuah keyakinan yang salah. Temanya saja agama, tapi jangan dikaitkan bahwa yang salah itu agamanya", jelasnya.

Kurniasih menambahkan, ketika pasien memiliki waham keagamaan seperti ini, bukan berarti pemicu penyakitnya adalah sebuah agama.

Sebab pemicu gangguan jiwa bersifat multi faktor, semisal tinggal di lingkungan yang sehari-harinya membahas hal-hal berbau keagamaan.

Contoh tema waham pasien skizofrenia di masa lalu kebanyakan adalah guna-guna, sebab dalam budayanya ada kepercayaan tentang guna-guna.

"Wahamnya saja yang berbeda, tapi pemicunya sama, patologinya sama. Yang berbeda adalah isinya, tergantung pada budaya dan latar belakang pendidikannya", imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan dr Andri, SpKJ, FAPM dari RS Omni Alam Sutra.

Hanya saja, waham yang paling sering ditemukan adalah waham kebesaran, karena penderita merasa dirinya istimewa atau bisa ditunjukkan dengan mengaku-aku sebagai tuhan maupun nabi.

"Waham keagamaan ini memang yang paling banyak. Nggak cuma di Indonesia, di luar negeri juga banyak", katanya.

Tetapi ia menegaskan, ketika waham muncul pada pasien skizofrenia, bukan berarti pemicunya adalah masalah keagamaan yang dialaminya.

Sebab pada dasarnya skizofrenia menimbulkan distorsi atau penyimpangan persepsi sehingga yang bersangkutan seolah-olah memahami dirinya adalah tuhan atau mendapatkan mukjizat.

Ditambahkan dr Andri, munculnya halusinasi dan delusi pasien skizofrenia sejatinya dipicu peningkatan zat kimiawi dalam otak yang bernama dopamin.

Untuk itu, pasien skizofrenia yang tergolong gangguan jiwa berat ini pun masih bisa diobati.

"Karena ada hubungannya dengan peningkatan zat kimiawi di otak yaitu dopamin, maka pengobatannya bertujuan untuk menyeimbangkan dopamin kembali", ungkapnya.

Hanya saja beragam tantangan masih sering ditemui dalam pengobatan skizofrenia, seperti soal kesadaran pasien sendiri untuk berobat, hingga adanya stigma yang mengurungkan niat seseorang mencari solusi pengobatan. (Detikcom)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.