Tahun 2016 disebut sebagai periode paling mengerikan bagi petugas medis Suriah

Seseorang memeriksa kerusakan di rumah sakit Omar Bin Abdulaziz, di wilayah oposisi yang terkepung, Aleppo, Suriah (19/11/2016. REUTERS)
Jurnal Medis The Lancet melaporkan, fasilitas medis di Suriah menjadi sasaran serangan. Pada Selasa (14/3), mereka meminta masyarakat internasional berupaya melindungi aset medis di wilayah konflik ini.

Samer Jabbour, profesor Ilmu Kesehatan dari universitas Amerika di Beirut, menyebut tahun 2016 sebagai periode paling mengerikan bagi petugas medis Suriah.

Mereka menjadi sasaran serangan, termasuk pembunuhan, pemenjaraan, penculikan dan penyiksaan.

"Masyarakat internasional membiarkan pelanggaran hukum dan HAM ini tidak terjawab. Padahal, ada risiko sangat besar bagi petugas. Ada banyak penentangan, tapi minim tindakan", keluhnya.

Jabbour merupakan salah satu peneliti yang memimpin penelitian terkait nasib fasilitas medis di kecamuk perang Suriah.

Penelitian mengumpulkan data dari berbagai sumber dan menilai dampak konflik terhadap fasilitas serta pekerjanya.

Hasil menunjukkan, serangan ke fasilitas kesehatan (yang paling dibutuhkan oleh warga) digunakan untuk menekan (oposisi).

Studi memperkirakan 814 tenaga medis tewas antara Maret 2011 hingga Februari 2017. Namun menurut Jabbour, data tersebut masih mentah karena banyak kesulitan pengumpulan bukti.

Hampir 200 serangan mengenai pusat kesehatan tahun lalu, meningkat dibanding periode 2012 dengan jumlah 90 kali.

Penargetan dilakukan berulang kali agar fasilitas tidak bisa lagi digunakan. RS gua Kafr Zita di Hama misalnya, telah dibom 33 kali sejak 2014, termasuk enam kali tahun ini.

M10, sebuah rumah sakit bawah tanah di Aleppo timur, saat masih dikontrol oposisi diserang 19 kali dalam kurun waktu tiga tahun, dan akhirnya hancur pada Oktober 2016.

"Seiring waktu, penargetan menjadi makin sering, lebih mencolok, dan lebih luas. Perusakan fasilitas kesehatan tidak pernah terjadi dalam perang lainnya", ujar Jabbour.

Para peneliti itu menyerukan tindakan mendesak dari para pembuat kebijakan di dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini memantau ikut serangan, namun menilai laporan tersebut kurang akurat karena hanya menghitung jumlah serangan dan tanpa dokumentasi pelaku.

Namun menurut Karl Blanchett, direktur Kesehatan di Pusat Krisis Kemanusiaan, Sekolah Medis & Kebersihan London, temuan ini mengangkat isu serius yang bisa mempengaruhi negara lain.

"Suriah hanyalah puncak dari gunung es. Di Afghanistan dan Yaman saat ini, organisasi kemanusiaan internasional melaporkan serangan terhadap fasilitas kesehatan setiap minggu", ujarnya.

"Ada pasien yang ditembak saat di dalam ambulans di Kolombia, ambulans digunakan dalam serangan bunuh diri di Afghanistan, dokter dibunuh di Somalia, dan rumah sakit dibom di Afghanistan, Yaman dan Libya", sebutnya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.