Seorang turis asal Malaysia meneteskan air mata haru saat melihat pelaksanaan hukuman cambuk di Aceh

Hukum cambuk di Aceh
Puluhan wisatawan asal Malaysia menyaksikan pelaksanaan hukuman cambuk terhadap 12 pelanggar syariat Islam di Kota Banda Aceh.

Hukuman cambuk ini dipusatkan di Halaman Masjid Al Mukminin, Gampong Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Senin (20/3).

Puluhan wisatawan Malaysia tersebut berbaur dengan seribuan masyarakat lokal.

"Kami dari Malaysia sebenarnya ingin berlibur di Banda Aceh. Namun, karena ada informasi hukuman cambuk, maka kami tertarik ingin melihatnya secara langsung", katanya, yang mengaku sempat meneteskan air mata saat melihat eksekusi cambuk tersebut.

Ia mendukung hukum cambuk yang diterapkan di Aceh. Pelaksanaan hukuman cambuk jadi pembelajaran bagi dirinya dan juga turis Malaysia lain yang menyaksikan.

"Menyaksikan pelaksanaan hukuman cambuk ini merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Tapi yang terpenting, menyaksikan hukuman cambuk merupakan pembelajaran yang kami dapatkan dari Aceh", katanya.

Hal senada diungkapkan Nurida Muhammad Saleh, wisatawan Malaysia lainnya. Menurutnya, hukuman cambuk bisa menjadi pengajaran bagi masyarakat yang tidak menaati syariat Islam.

"Sangat bagus. Ini bisa sebuah pengajaran bagi remaja tidak melanggar syariat Islam", kata Nurida Muhammad Saleh yang juga Ketua Partai Islam se-Malaysia.

Nurida mengatakan, dirinya merekam prosesi hukuman untuk ditunjukkan kepada remaja Malaysia. Tujuannya adalah pembelajaran bagi generasi muda negeri jiran itu.

"Kami di Malaysia baru akan membuat undang-undang serupa yang akan dibawa ke Mahkamah Syariah. Undang-undangnya hampir sama dengan syariat Islam di Aceh. Undang-undang ini tentu untuk kebaikan", kata Nurida Muhammad Saleh.

Sebanyak 12 warga yang terbukti melanggar qanun jinayat di Kota Banda Aceh dihukum delapan hingga 27 kali cambuk.

Prosesi eksekusi dikawal ketat puluhan anggota Satpol PP dan Wilayatul Hisbah serta kepolisian.

12 pelanggar syariat Islam yang dicambuk terdiri dari empat pasangan atau delapan terhukum ikhtilath (asusila), ditambah empat terhukum maisir atau judi.

Delapan terhukum ikhtilath yakni pasangan Munawir bin M Jafar, 31 tahun, dan Mariati binti M Yakob, 46 tahun. Pasangan ini masing-masing dedera 21 kali cambuk.

Berikutnya pasangan M Kadafi bin Abdul Wahab, 25 tahun, dan Cici Anggia binti Hamdani, 20, tahun. Pasangan ini dihukum masing-masing 17 kali cambuk.

Kemudian, pasangan M Farid bin Marjuddin, 24 tahun, dan Siti Zahara binti Ibrahim Hasan, 23 tahun. Pasangan ini dihukum masing-masing 22 kali cambuk.

Serta Ilhamdi bin Safwan, 21 tahun, dan Nuraini binti Amin Puteh, 43 tahun. Pasangan ini masing-masing mendapat 24 cambukan.

Sedangkan empat terhukum cambuk kasus maisir yakni Erwin Sahmedi bin Aminuddin, 34 tahun, Johan Hadi Perdata Tanjung bin Asran Tanjung, 26 tahun.

M Amin Harahap bin Rayo Harajap, 31 tahun, dan Roito Harahap bin Raja Harahap, 28 tahun. Keempat terpidana dihukum masing-masing empat kali cambukan.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Banda Aceh Yusnardi mengatakan, para terhukum cambuk tersebut ditangkap masyarakat beberapa waktu lalu.

"Kemudian, masyarakat menyerahkan kepada kami untuk diproses secara hukum. Setelah menjalani hukuman, mereka dikembalikan ke keluarga", kata Yusnardi.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejari Banda Aceh Ricky SH mengatakan, para terhukum cambuk ditahan selama diproses hukum berlangsung.

"Penahanan diatur Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat. Masa penahanan dikompensasikan 30 hari sama dengan satu kali hukuman cambuk", kata Ricky.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.