Pasukan Libya Timur (LNA) berhasil menguasai kembali pelabuhan minyak utama Ras Lanuf dan Es Sider, Selasa (14/3)

Gambaran tanki rusak di pelabuhan minyak Ras Lanuf, Libya (11/1/2017. REUTERS)
Pasukan Libya Timur (LNA) berhasil menguasai kembali pelabuhan minyak utama Ras Lanuf dan Es Sider, Selasa (14/3). Mereka merebut situs itu dari faksi saingan, Brigade Pertahanan Benghazi (BDB).

Serangan udara terus dilakukan terhadap posisi BDB di Jufra, menurut sumber angkatan udara LNA.

Menurut Akram Buhaliqa, komandan LNA di dekat kota Ajdabiya, pasukan darat, udara dan laut dikerahkan dalam serangan ini.

10 tentaranya tewas dan 18 terluka dalam pertempuran. Tidak ada data jumlah korban dari pihak BDB.

Rekaman dan foto menunjukkan LNA berada di sekitar pelabuhan. Warga Ras Lanuf juga mengatakan LNA telah memasuki kota dekat pelabuhan minyak, sementara bentrokan dan serangan udara masih terjadi.

Ahmed al-Mismari, juru bicara Tentara Nasional Libya (LNA), menyebut BDB mundur ke arah kota pesisir Harawa, 100 km barat Es Sider, dan Jufra, basis gurun yang berada 300 km di selatan.

LNA masih berusaha mengejarnya menuju gurun.

Pertempuran berebut pelabuhan Libya Oil Crescent (jalur pantai di barat daya Benghazi) menimbulkan kekhawatiran peningkatan kembali kekerasan di negara itu.

Namun, OPEC tetap berupaya menghidupkan kembali produksi minyak Libya.

Pasukan LNA dengan tokoh utamanya Khalifa Haftar (eks petinggi era rezim Khaddafi) menguasai pelabuhan minyak Crescent September lalu, sekaligus mengakhiri blokade di wilayah itu.

Mereka menyerahkan pelabuhan kepada Perusahaan Minyak Nasional (NOC) di Tripoli, untuk kembali berproduksi.

Port ini merupakan nomor dua terbesar di Libya, dengan kapasitas potensial gabungan sekitar 600.000 barel per hari. Kedua kilang sempat mengalami kerusakan parah akibat pertempuran sebelumnya.

Keberhasilan BDB merebut pelabuhan membuat faksi timur marah, menuduh pemerintah Tripoli (yang didukung oleh PBB) mendukung saingannya (faksi barat).

Selain itu, serangan berakibat turunnya produksi minyak nasional, dari sekitar 700.000 barel per hari (bph) menjadi 600.000 bph akibat gangguan di pelabuhan.

Setelah berhasil merebut kembali, LNA belum memutuskan akan melakukan serah terima dengan NOC, menurut Mismari.

Keputusan pihak yang akan mengelola pelabuhan akan dibuat selanjutnya dan diawasi oleh Naji al-Maghribi, kepala faksi timur.

Al-Maghribi tidak akan mematuhi kesepakatan unifikasi tahun lalu dengan NOC, karena kegagalan perpindahan kantor pusat NOC ke Benghazi.

Faksi fimur mencoba menjual minyak secara independen dari pemerintah Tripoli, tapi diblokir oleh sanksi internasional.

LNA masih mempertahankan kontrol Brega dan Zueitina, dua port terdekat Benghazi.

LNA dan BDB berada di sisi berlawanan dalam konflik antar faksi timur dan barat. Konflik meletus di tahun 2014, membuat Libya memiliki pemerintah saingan.

Negosiasi untuk kesepakatan politik antara kedua belah pihak sejauh ini gagal. Pertempuran terbaru dapat memperkeruh suasana konflik.

Menurut PBB. pertempuran di sekitar Crescent Oil membuat sejumlah pelanggaran HAM, termasuk pembunuhan di luar hukum dan penahanan sewenang-wenang. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.