Anak-anak Hindun kini bungkam ketika akan diwawancara, takut salah berbicara

Foto almarhumah Hindun binti Raisman di kediamannya di Jalan Karet Karya III, Karet, Setia Budi, Jakarta Selatan (Hidayatullah)
Senin (13/3) lalu, Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mendatangi rumah keluarga nenek Hindun (78) di RT 09 RW 05, Jalan Karet Karya III, Karet, Setia Budi, Jakarta Selatan.

Kedatangan Ahok dilakukan secara tertutup. Tidak banyak diketahui apa agenda kedatangan itu.

Tak lama setelah dikunjungi terdakwa penistaan agama itu, keluarga Hindun tutup mulut dari media.

Kepada wartawan usai kunjungan tertutupnya di rumah Hindun itu, Ahok meminta media massa tidak lagi memberitakan soal kasus Hindun.

Diketahui, mendiang Hindun sempat menjadi buah bibir masyarakat, setelah sejumlah media massa menyebut-nyebut jenazahnya tidak dishalatkan di mushalla dekat rumahnya.

Meskipun jenazah dishalatkan pengurus mushala di rumah Hindun.

Menurut Hidayatullah, setelah kehebohan itu, keluarga Hindun bungkam terhadap media.

Neneng (46), salah seorang anak Hindun enggan berbicara saat ditanya perihal kasus yang dibesar-besarkan oleh media dan media sosial tersebut.

Ia tak ingin kasus ibunya dibesar-besarkan lagi.

“Sudah selesai”, ujarnya dikutip Hidayatullah.

Saat ditanya lebih jauh lagi, termasuk soal alasannya bungkam, Neneng tetap menolak berkomentar.

“Enggak, saya abis kerja, capek”, tuturnya tampak seakan gerah.

Saat itu Neneng, sedang berada di warung rumahnya yang berdempetan dengan rumah mendiang ibunya.

Saat hendak diambil gambarnya, wanita tak berjilbab ini bergegas masuk ke dalam rumahnya dan tak keluar lagi.

Anak Hindun lainnya, Arnisah (57) ketika diwawancarai mengaku tak tahu-menahu ihwal kasus ibunya.

“Saya enggak tahu. Saya (sehari-hari) enggak tinggal di sini, (tapi) di Lenteng (Agung)”, katanya.

Anak sulung Hindun, Sudarsih (60), juga enggan berkomentar banyak soal kasus ibunya.

“Saya takut salah ngomong, Pak”, ujarnya menghindar.

Sebagian tetangga Hindun bersikap serupa, bungkam terhadap wartawan. Sejumlah tetangga dekat juga memilih tutup mulut.

Tetangga lainnya mengatakan, hubungan keluarga Hindun dengan masyarakat setempat berjarak sejak kehebohan di media itu.

“Bukan lagi renggang (tapi lebih dari itu)”, ujar salah seorang perempuan tetangga Hindun yang tak ingin diungkap identitasnya.

Kasus Hindun membesar di media setelah Neneng mengeluhkan jenazah ibunya tidak dishalatkan di mushala.

Ia mengklaim, itu mungkin terjadi karena ibunya memilih Ahok saat pilkada lalu.

Meski kemudian dibantah pengurus mushala, Muhammad Syafi'i. Menurutnya, sore itu turun hujan dan tidak ada orang di mushala. Sehingga ia memutuskan menshalati mayat di rumahnya.

Syafi'i juga membantah jenazah Hindun ditelantarkan. Karena ia ikut mengurusnya, termasuk hingga ke kuburan.

Pernyataan Neneng kemudian berkembang menjadi isu yang heboh di media, bahwa ada jenazah yang ditelantarkan karena memilih Ahok. (Hidayatullah)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.