Mujahid Abu Jud (24), menjadi korban serangan klorin oleh rezim Assad di distrik Dahrat Awwad, Aleppo, 22 November 2016

Ilustrasi (AA)
Warga sipil Aleppo, Suriah, menyerukan agar membawa Basyar al-Assad ke pengadilan karena menggunakan senjata kimia dalam perang.

Bulan lalu, Human Rights Watch (HRW) mengatakan rezim Assad telah melakukan "serangan kimia terkoordinasi" di wilayah oposisi, Aleppo, antara 17 November hingga 13 Desember 2016.

50 ribu warga sipil akhirnya dievakuasi keluar dari wilayah terkepung itu pada akhir Desember, lewat perjanjian yang ditengahi Turki-Rusia.

"Kami ingin organisasi hak asasi manusia dan PBB segera mengambil langkah menghentikan rezim Assad dari pembunuhan yang berlangsung selama enam tahun terakhir", ujar Osman al-Khidr (34), warga sipil Aleppo.

"Kami ingin Assad diadili", katanya.

Menurut al-Khidr, pasukan rezim menggunakan senjata kimia untuk membom distrik Tarik al-Bab di Aleppo timur, tanggal 19 November 2016.

"Kami memiliki kelompok hak asasi independen. Kami mengumpulkan bukti setiap insiden di Suriah dan menggabungkannya. Insya Allah, file akan diajukan ke Pengadilan Pidana Internasional dan pelaku akan diadili", katanya.

Mujahid Abu Jud (24), menjadi korban serangan klorin oleh rezim di distrik Dahrat Awwad, Aleppo, 22 November 2016. Ia juga menyerukan agar Assad diadili atas kejahatan perang.

"Alih-alih mengadili Assad, PBB mengabaikan serangan kimia", ujar Abu Jud.

Ia menegaskan, rezim terus menggunakan senjata kimia secara intensif untuk menyerang daerah oposisi.

Firas Badawi (37), seorang wartawan dari Aleppo timur, pun mengklaim menjadi korban serangan kimia militer rezim di distrik al-Katirji, 28 November 2016.

Badawi menyesalkan kenyataan bahwa dunia mengabaikan laporan HRW tentang serangan senjata kimia di Aleppo timur, meskipun upaya tetap dilakukan dalam mengumpulkan bukti.

"Sikap diam masyarakat internasional mendorong Assad melanjutkan serangannya terhadap warga", ujar Badawi.

Sementara itu, Direktur Institute Keadilan Suriah, Abdulkadir Mando, meminta bantuan agar Assad dihentikan dari pelanggaran hukum internasional selama perang.

"Masyarakat internasional harus menekan rezim Assad agar menghentikan pelanggaran", katanya.

Tahun lalu, sebuah panel investigasi PBB menemukan penggunaan senjata kimia digunakan oleh pasukan rezim di tahun 2014 dan 2015. Namun, tidak ada tindak lanjut.

Gas klorin adalah salah satu dari senjata kimia yang mematikan dan menyiksa korban. Penggunaan klorin dilarang oleh perjanjian internasional.

Paparan konsentrasi tinggi gas ini dapat menyebabkan mati lemas karena merusak saluran udara dan menyebabkan limpahan cairan parah di paru-paru. Anak-anak dan manula paling terisiko.

Di dalam tubuh, gas akan bereaksi dengan air, hingga terbentuk asam klorida yang merusak jaringan. (Anadolu Agency)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.