AS diduga menggunakan isu 'bom laptop' al-Qaeda sebagai akal-akalan untuk mempersulit bisnis maskapai Timur Tengah

Infografis aturan baru mengenai larangan membawa perangkat besar dalam kabin pesawat (Arab News)
Wisatawan dari Timur Tengah menyatakan rasa frustrasi mengenai larangan perangkat elektronik besar dalam penerbangan ke Amerika Serikat dan Inggris, lapor media berita Arabnews, Jum'at (24/3).

Sejak Sabtu (18/3), penumpang penerbangan menuju AS dan Inggris dari bandara Turki dan Arab harus memeriksakan perangkat elektonik besar, seperti laptop dan tablet.

Beberapa wisatawan melihatnya sebagai tindakan yang tidak masuk akal.

"Apakah ada hal lain yang harus saya ketahui sebelum diizinkan terbang kembali ke rumah? (Apa) Celana pendek tidak diperbolehkan? Dan haruskah saya bercukur?", ujar seorang warga AS yang tinggal di Abu Dhabi, menjadwalkan penerbangan pulang ke AS beberapa hari ke depan.

"Mereka mengambil laptop dan kamera saya", ujar Mustafa, yang melakukan penerbangan dari Dubai ke AS.

Di bandara Tunis, seorang penumpang penerbangan ke Kanada via London bingung dengan aturan baru ini.

"Saya keberatan, karena saya perlu laptop atau iPad saya. Ini hal pribadi. Mengapa ini harus ditempatkan di dalam palka?", ujar Riadh (33). Ia khawatir perangkatnya rusak atau dicuri.

Di Lebanon, wisatawan lain bernama Riad (50-an), seorang pekerja IT, harus menyalin hard drive laptop-nya sebelum terbang ke London minggu depan.

Untuk berjaga-jaga jika laptopnya hilang atau rusak dalam perjalanan, akibat aturan baru itu.

"Ini merepotkan. Mengapa mereka tidak menyalakan laptop atau tablet seperti biasa dan memasukkannya melalui mesin (pemeriksaan)?", keluhnya.

Banyak yang berfikir bahwa larangan ini tidak masuk akal dan tidak ada gunanya.

"Seolah kriminal dari Timur Tengah akan membatalkan rencana jahatnya dengan (ikut) penerbangan langsung ke AS karena aturan ini", kritik analis Mesir, Mohamed El-Dahshan di Twitter.

Sementara itu, pemerintah Ankara berencana meminta AS mencabut aturan ini.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengkritiknya dan menyarankan segera menggantinya dengan aturan "permanen".

Larangan Inggris juga memicu kekhawatiran Tunisia, yang mencoba pulih dari serangan militan pada wisatawan, 2015 lalu.

"Ini akan berdampak negatif pada pariwisata", kata Mohamed Ali Toumi, kepala agen perjalanan federal Tunisia.

Sebelumnya, para pejabat Amerika mengungkap larangan ini terkait masalah keamanan. Alasannya adalah isu intelijen yang mengatakan al-Qaeda Yaman menyiapkan bom laptop.

"Yang kami tahu, larangan ini terkait dengan laporan intelijen terkait al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP)", ujar Mustafa Alani, analis keamanan di Pusat Penelitian berbasis di Dubai.

Namun, para ahli tidak mengesampingkan motif lain di balik pemberlakuan larangan, termasuk kerugian bisnis bagi penerbangan Teluk yang makin populer yaitu Emirates, Etihad, dan Qatar.

Maskapai penerbangan AS tidak ada yang terdampak, karena tidak memiliki penerbangan langsung dari bandara yang terkena aturan.

"Maskapai penerbangan Amerika akan mendapatkan keuntungan dari pelancong bisnis. Perjalanan panjang yang memakan waktu 8-12 jam tidak efisien, tapi akan ada pertimbangan lain terkait keamanan", ujar analis penerbangan Kyle Bailey.

Sedangkan larangan Inggris justru akan mempengaruhi bagi British Airways dan easyJet, selain penerbangan dari negara-negara yang terkena aturan.

Tapi, para kritikus khawatir dengan baterai lithium yang disimpan di kargo.

"Ada kekhawatiran mengenai baterai lithium di kompartemen kargo. Itu bisa menjadi sangat eksplosif jika suhunya terlalu panas", kata Bailey.

"(Namun) dari apa yang kita dengar, risiko terorisme melampaui risiko kebakaran (lithium) pada saat ini", ujar Bailey, bermaksud menyindir kebijakan aneh itu. (Arab News)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.