Karena dituduh berafiliasi dengan Hamas, sebuah sekolah Palestina ditutup oleh Israel. Membuat ratusan orang tua murid kebingungan terkait pendidikan anaknya

Ilustrasi (Al Jazeera)
23 Februari lalu, Departemen Pendidikan Israel menutup sekolah al-Nukhba.

Sekolah ditutup setelah terjadi penyelidikan oleh badan intelijen Israel dan polisi Yerusalem.

Otoritas pendudukan Israel menuduh sekolah ini berafiliasi dengan gerakan Hamas yang dianggap terlarang.

Namun kepala sekolah itu, Louay Bkirat, membantah adanya kerja sama dengan kelompok pejuang Gaza itu.

Menurutnya, Inspektur Departemen Pendidikan sudah mengunjungi sekolah secara berkala sejak pertama dibuka. Bkirat juga berharap menerima lisensi pendidikan permanen bulan lalu.

"Mereka datang 14 Februari, satu minggu sebelum menutup (sekolah) kami. (Padahal) mereka telah melihat seluruh kurikulum, rencana kelas, guru, dan mereka merespon positif", ujar Bkirat.

"Mereka mengatakan, setelah satu minggu, kami akan mendapat lisensi legal. Namun kemudian malah datang menutup sekolah", keluhnya.

Al-Nukhba berada di Yerusalem Timur, dekat Sur Baher. Penutupan ini menyulitkan para orang tua dari 230 murid itu.

Al-Nukhba pertama kali dibuka September 2016 setelah menerima izin sementara dari Departemen Pendidikan.

Ini adalah satu-satunya sekolah swasta di Sur Baher, mendidik anak laki-laki berusia 4-11 tahun.

Perintah penutupan pertama kali datang di bulan Desember.

Departemen Pendidikan mengutip laporan intelijen bahwa sekolah berencana mengajarkan "ideologi Hamas".

Pengelola sekolah kalah dalam dua persidangan. Penutupan resmi mulai berlaku bulan lalu.

Para pengurus dan orang tua bersikeras sekolah harus dibuka kembali. Guru dan siswa mengadakan aksi protes di luar gedung sekolah dan alun-alun.

Pemogokan sebagai solidaritas bahkan terjadi di semua sekolah wilayah Sur Baher pekan lalu.

Beberapa orangtua siswa dihubungi untuk ditawari sekolah lain oleh pihak Kota.

Jaber Amera, kepala komite orang tua di Sur Baher, menyatakan bahwa sebagian besar anak belum dipindahkan ke sekolah lain.

"Para orangtua menolak tawaran ini, mereka tidak ingin mengirim anak-anak ke sekolah kota", ujar Amera.

Meski begitu, sekitar 15-20 orang tua sudah memindahkan anaknya ke sekolah lain akibat dari penutupan.

"Sekolah ini jauh lebih baik dibandingkan sekolah lain di Sur Baher... Kami akan mencoba berjuang untuk sekolah ini dan membukanya kembali", tambahnya.

Myasser Jadallah, orang tua salah satu mantan siswa di Al-Nukhba, menilai kualitas pendidikan di sana cukup bagus.

Bahasa Ibrani diajarkan sejak kelas dua, lebih awal dari sebagian besar sekolah Yerusalem lainnya yang berkurikulum Palestina. Ada juga pelajaran etika, logika, serta fiksi ilmiah.

Myasser memutuskan melanjutkan pendidikan anaknya, Mohammad (kelas 4) di rumah, melalui buku teks dan halaman Facebook.

Mohammad pernah mencoba bersekolah di lingkungan Beit Hanina, namun perjalanan antara sekolah dan rumahnya terlalu jauh. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.