Presiden Republik Syi'ah Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Turki, Tayyip Erdogan, pada Rabu (1/3) sepakat memperbaiki hubungan

Presiden Turki Tayyip Erdogan saat bertemu Rouhani (Reuters)
Presiden Republik Syi'ah Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Turki, Tayyip Erdogan, pada Rabu (1/3) sepakat memperbaiki hubungan, menurut kantor berita negara Iran IRNA.

Teheran dan Ankara mendukung pihak yang berlawanan dalam konflik Suriah. Syi'ah Iran mendukung rezim Basyar al-Assad, sementara Turki mendukung pihak oposisi Sunni.

Bulan lalu, Erdogan dan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menuduh Iran mencoba merusak Suriah dan Irak dengan sektarianisme Syi'ah.

Sehingga membuat Teheran memanggil dubes Turki terkait komentar pedas tersebut.

"Menyelesaikan perbedaan politik (antara Iran dan Turki) dapat membawa stabilitas regional", ujar Rouhani dalam pertemuannya dengan Erdogan di ibukota Pakistan, Islamabad.

Sebagai balasan, kepada IRNA Menlu Cavusoglu menyatakan bahwa Ankara menghargai dukungan Teheran kepada pemerintah Turki saat terjadi kudeta militer gagal, 15 Juli 2016.

"Iran mendukung pemerintah kita pada malam itu, sementara beberapa negara lain memanggil (mengucapkan dukungan) setelahnya atau bahkan berminggu-minggu kemudian", katanya.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Turki sebagai tetangga yang tidak tahu terima kasih.

"Mereka (Turki) menuduh kami atas sektarianisme (Syi'ah), tapi tidak mengingat saat kami tidak tidur di malam kudeta", katanya.

Meskipun terdapat perbedaan, Turki dan Iran, bersama dengan Rusia, telah mensponsori pembicaraan damai Suriah di ibukota Kazakhstan, Astana. Mereka berupaya menemekan "solusi" konflik Suriah.

Persaingan regional antara Iran dan Turki bukanlah hal baru.

Namun kali ini, analis politik menyorotinya sebagai sinyal kuat Ankara terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump di Timur Tengah.

Trump telah mengecam Iran secara tajam, termasuk mengenai kesepakatan nuklir dan uji coba rudal balistik.

Sementara Turki ingin memperbaiki hubungan dengan Washington. Terjadi hubungan yang "dingin" beberapa waktu lalu akibat kritik AS mengenai HAM di Turki, masalah juga muncul akibat dukungan AS ke milisi Kurdi di Suriah. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.