Tubuh anggota keluarganya yang hilang dialami oleh warga Palestina. Mayat-mayat korban Israel tak pernah kembali

Keluarga korban meninggal Palestina
"Cemeteries of Numbers" adalah pemakaman militer Israel bagi warga Palestina yang terbunuh saat serangan atau di dalam tahanan. Identifikasi kuburan hanyalah berupa nomor pancang.

Dalam Islam, proses penguburan menjadi salah satu hal yang penting. Fakta beberapa jenazah hilang dari kuburan menjadi pertentangan hebat.

Beberapa generasi mengisi pemakaman militer ini, dari mulai dari korban perlawanan bersenjata terorganisir dari tahun 1960-an dan 70-an, hingga peristiwa Intifada Kedua pada 2000-an serta operasi militer Israel baru-baru ini di Jalur Gaza.

Kebanyakan mayat yang hilang berasal dari masa awal konflik. Penguburan dilakukan terburu-buru dan kemudian terabaikan, serta tidak diekspos oleh pengadilan dan investigasi internal.

Sebuah penyelidikan membuat pemakaman paling terkenal di dekat Dataran Tinggi Golan ditutup pada 2003.

Enam belas kuburan dibongkar untuk mencari Issa Zawahreh, warga Palestina yang meninggal di Yordania. Tidak satupun mayat yang diidentifikasi sesuai, hingga ia ditemukan beberapa tahun kemudian.

Andre Rosenthal, seorang pengacara hak asasi manusia yang menyaksikan pencarian, mengaku melihat hal yang sangat mengerikan.

Terungkap, mayat dikubur tanpa peti mati atau dibungkus hanya dengan kantong plastik lusuh.

Nomor identifikasi ditulis dengan stabilo, serta telah memudar sehingga tak terbaca.

"Kami mencapai kedalaman sekitar 50 sentimeter. Dua kantong mayat berada bertumpukan, terlalu dekat untuk dikatakan bersebelahan", katanya.

Hewan telah merusak penanda logam yang digunakan untuk menandai mayat.

Di pengadilan, militer mengklaim mayat bisa hilang karena berjalannya waktu, bumi bergeser atau karena relokasi mayat.

Rosenthal mengatakan, kondisi di pemakaman lain membaik, tapi ia masih berjuang di dua kasus mengenai korban Palestina (tewas dalam Intifada Kedua) yang belum ditemukan.

JLAC juga telah mengajukan pengembalian 116 mayat di kuburan, tapi mengeluhkan kurangnya informasi.

Pihak berwenang baru-baru ini meminta lebih banyak waktu karena tidak bisa mengidentifikasi semua mayat dalam daftar, juga tidak memiliki tim yang berdedikasi menangani masalah tersebut

Dalam banyak kasus, keluarga hanya memiliki sedikit informasi tentang nasib korban.

Menurut pengatur kampanye JLAC, Salwa Hamad, kejelasan infomasi adalah yang paling diperjuangkan oleh keluarga korban.

Setidaknya, 65 warga Palestina dinyatakan hilang. Tidak ditahui apakah mereka ditahan oleh Israel atau tidak.

"Jika keluarga tidak melihat mayatnya, mereka berpikir ada kemungkin dia masih hidup, mungkin dia tidak mati", kata Hamad.

Menteri Pertahanan Moshe Yaalon telah memerintahkan mengembalikan semua mayat pada 2013 lalu. Namun, kebijakan tersebut hanya bermotif politik tertentu.

Pada 2009, Israel mengubah komitmen sebelumnya, mengatakan hanya akan mengembalikan mayat anggota Fatah, tapi tidak untuk pejuang Hamas atau Jihad Islam, setelah tentara Israel Gilad Shalit diculik Hamas.

Januari tahun ini, kabinet Israel mengatakan tidak akan mengembalikan mayat pejuang Hamas.

Kebijakan dibuat agar kelompok itu juga melepaskan mayat dua tentara Israel yang tewas dalam perang Gaza 2014,  beserta dua tawanan lainnya. (Anadolu Agency)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.