Sebagai manusia biasa, wajar jika di kepala para petempur, baik muda maupun tua, dihinggapi rasa takut. Perasaan khawatir sebelum maju ke sebuah front untuk mengadu peluru dan bom

Parit-parit yang digunakan dalam perang Suriah, dipakai oleh pejuang hingga wartawan
Kehidupan normal sebelum revolusi 2011, kebanyakan pejuang oposisi yang menentang rezim Assad dahulu hanyalah warga sipil biasa.

Ada yang berprofesi guru bahasa Inggris, pandai besi, tukang las, penjahit, sopir truk atau taksi, mahasiswa, pedagang kaki lima pinggir jalan, petani dan sebagainya.

Sebagian diantara pejuang oposisi berasal dari tentara rezim Assad yang merupakan Muslim Sunni, mereka membelot karena menolak membunuhi demonstran.

Atau bekas peserta wajib militer di masa lalu.

Namun pemuda-pemuda "alay Suriah" juga banyak yang mengangkat senjata. Masa-masa awal revolusi menjadi "romantisme" perjuangan melawan rezim.

Mereka hanya orang biasa yang tidak pernah dididik khusus untuk mati seperti dunia militer.

Sebagai manusia biasa, wajar jika di kepala para petempur, baik muda maupun tua, dihinggapi rasa takut. Perasaan khawatir sebelum maju ke sebuah front untuk mengadu peluru dan bom.

Ibaratnya demam panggung, tapi taruhannya nyawa, karena yang dihadapi bukan sorakan penonton tetapi peluru tajam dan ledakan bom musuh.

Namun rasa takut tidak sedikitpun mencegah pejuang Islam maju menyambut bidikan moncong-moncong senjata pasukan rezim.

Gema takbir, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!!”, mengiringi hati mereka.

Ketika rasa gugup masih mendera pikiran, dan ketakutan bersemayam mengendalikan logika. Tubuh-tubuh mereka disambut oleh serangan musuh, peluru-peluru berterbangan, ledakan bom bersahutan seperti petasan.

Dan semua rasa takut itu musnah seketika. Allah mencabutnya, keresahan langsung lenyap saat sebuah peluru melesat di dekat kepala sehingga terasa lajunya. Atau mortar yang meledak begitu dekatnya.

Peluru dan mortar yang meleset bukannya membuat pejuang kabur menuruti nafsu ingin hidup, malah menjadi “obat” yang membunuh rasa takut.

Jika dicontohkan pada kondisi non perang, rasanya sama dengan efek adrenalin ketika seseorang selamat setelah menerobos bahaya di jalan raya. Nyaris mati tapi tak jadi.

Adrenalin menjebol kegugupan di kepala, memacu detak jantung, meningkatkan kegesitan, konsentrasi dan juga ada sensasinya.

Akan tetapi, mereka mengakui, motivasi dan niat adalah pembeda utama daripada sekedar terlatih adrenalinnya. Dengan menyandarkan keyakinan kepada Allah maka itu lebih kuat daripada motivasi apapun.

Terkadang pula, fokus para pejuang Sunni lebih terganggu soal nasib warga sipil yang dibom atau kelaparan di pengungsian, daripada diri mereka sendiri.

(Dikisahkan dari sumber pejuang Suriah: Sisi lain perang)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.