Sebagian penuntut ilmu terjebak kokoh memahami sebuah fatwa Ulama sehingga membawa sikap kekakuan beragama, misalnya penggunaan sebutan syahid bagi seseorang

Ilustrasi mati syahid di medan jihad Suriah
Sebagian penuntut ilmu terjebak kokoh memahami sebuah fatwa Ulama sehingga membawa sikap kekakuan beragama.

Salah satu hal yang sering dipermasalahkan adalah penggunaan kata "Syahid" kepada seseorang yang telah meninggal dunia di jalan Allah atau hal-hal lain yang disebut dalam hadits sebagai tanda mati syahid.

Hujahnya, penggunaan kata "Syahid" dianggap sebagai ta'yin atau pemastian kondisi seseorang di hadapan Allah. Sehingga dianggap terlarang mutlak.

Bagaimana dengan pendapat Syaikh Ibnu Baz dalam permasalahan ini?

Kepada yang mulia ayahanda Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz semoga Allah menjaganya:

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya berharap fatwa antum tentang pengucapan kata syahid kepada person tertentu semisal asy-syahid Fulan. Bolehkah menuliskannya dalam buku dan majalah ? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan"

Jawab: 
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Semua yang disebut Nabi shalallahu alaihi wasallam sebagai syahid, maka dia dinamakan syahid. Seperti yang (meninggal) terkena kolera, sakit perut, tertimpa reruntuhan, tenggelam dan gugur dalam pertempuran di jalan Allah. Yang terbunuh saat membela agama, atau harta, atau keluarga atau dirinya.

Tapi mereka semua tetap dimandikan dan di-shalati (jenazahnya), kecuali yang terbunuh di medan perang maka tidak dimandikan dan tak di-shalati, karena Rasulullah tidak memandikan orang yang mati syahid di medan peperangan, sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari dari riwayat Jabir.

Sumber: Majmu fatawa wa maqaalaat Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz jilid 9 hal. 461

Editor: Muhammad Asy-Syuwai'ir, terbitan Darul Qasim 1420 H
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.