Hamas bekerja keras menangkal penyelundupan narkoba dari wilayah Mesir, yang melonjak tajam sepanjang 2017

Pekerja palestina memeriksa narkoba yang telah disita di Gaza (26/2/2017. Reuters)
Ganja dan obat penghilang rasa sakit lainnya membanjiri Jalur Gaza. Sehingga mendorong pejabat Hamas memberi hukuman lebih berat bagi penyelundup narkoba.

Jumlah barang haram yang berhasil disita di Gaza, Januari lalu, setara dengan jumlah obat terlarang sepanjang 2016, menurut para pejabat lokal.

Delapan bandar narkoba utama ditangkap dalam operasi terbesar sejauh ini oleh polisi Gaza.

Para bandar itu memasok ganja dan obat penghilang rasa sakit opioid (tramadol) dari Mesir.

Dalam razia terbaru, polisi menyita lebih dari 100 kg (220 pon) ganja (bernilai $ 5 juta) dan 250.000 tablet tramadol, yang dijual dengan harga 130/170 shekel ($35 - $45) per 10 pil.

Kota kecil Gaza menampung dua juta warga Palestina di wilayah seukuran 45 x 12 km. Selain dikepung Israel, kota memiliki sejumlah masalah sosial, terutama ekonomi. Membuat bandar narkoba menyasar mereka.

"Mereka pikir tramadol akan mengubah realitas dan membuat merasa damai. Mereka ingin kehilangan kesadaran tentang realita", ujar Fadel Abu Heen, seorang psikiater.

Hingga 2013, sebagian besar penyelundupan melalui terowongan Palestina-Mesir di bawah perbatasan.

Terowongan ini dibangun untuk mengirim berbagai barang, mulai dari makanan, mobil, ternak hingga roket.

Mesir menghancurkan terowongan tersebut dengan meledakan atau membanjirinya sepanjang 2014-2015 agar mencegah perdagangan ilegal.

Sejak itu, para penyelundup narkoba berusaha menemukan cara baru memasarkan dagangannya.

Obat diselundupkan dalam tabung gas atau mesin cuci. Kadang-kadang, sejumlah kecil dikirim dari Mesir ke Gaza menggunakan tabung-tabung.

Dalam beberapa kasus, obat-obatan haram juga dikirim di dalam barang-barang yang diimpor dari Israel.

"Ini adalah sebuah masalah, tapi bukan fenomena (sosial di Gaza)", kata Ahmed Al-Qidra, kepala pasukan anti-narkoba Gaza.

"Kami mengalami masalah ini seperti kebanyakan negara di seluruh dunia", tegasnya.

Hukuman terkait narkoba melunak selama beberapa tahun ini. Kemungkinan itulah yang memacu peredarannya, menurut Qidra.

Pengadilan bisa memberikan vonis penjara seumur hidup, bahkan hukuman mati bagi para penyelundup narkoba, tapi banyak yang berhasil lolos.

Menurut Yahya al-Farra, seorang pembantu pengacara publik, pengadilan harus lebih ketat. Setidaknya seperti pada 2009, ketika satu bandar dihukum 15 tahun penjara.

"Bandar menjual racun perusak rohani, sama dengan pembunuh yang menggunakan pistol atau pisau. Oleh karena itu, hukuman mati dapat diterapkan", kata Farra.

Ia dan Qidra ingin merekrut lebih banyak anggota di tim anti-narkoba, serta menambah fasilitas medis untuk merehabilitasi pecandu.

Di dalam penjara Gaza, narapidana berkampanye mendesak anak muda agar menjauhi narkoba yang tidak berguna dan merugikan.

Seorang tukang cukur (26) mengatakan, ia mulai mengkonsumsi setengah butir tramadol sehari setelah seorang teman menawarkannya. Tapi malah membuatnya menjadi pecandu.

"Saya mendesak anak-anak muda agar menjauhi teman yang buruk. Jika tidak, (masa depan) mereka akan hancur seperti saya", katanya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.