Seorang dokter Palestina menuntut permintaan maaf dari Israel atas kematian tiga putrinya dan seorang keponakan

Ilustrasi (AA)
Seorang dokter Palestina menuntut permintaan maaf dari Israel atas kematian tiga putrinya dan seorang keponakan, diberitakan Selasa (14/3).

Insiden berlangsung ketika rumah mereka diserang oleh pasukan Israel pada 2009 silam, dalam operasi "Cast Lead".

Sehari sebelum dimulainya sidang di pengadilan Israel, Dr. Izzedin Abuelaish mengatakan ia ingin Israel "menunjukkan berani bertanggung jawab".

Media Israel Haaretz mengklaim kematian korban disebabkan amunisi yang disimpan di dalam gedung.

Abuelaish menyebut klaim itu "gila". Menurutnya, peneliti dari kelompok HAM telah mengkonfirmasi adanya bahan peledak milik Israel di lokasi, setelah kejadian.

"Masing-masing dari (putriku) memiliki rencana masa depan. Mayar ingin menjadi seorang dokter, Rafah ingin menjadi pengacara, Bessan ingin menempuh pendidikan hingga pascasarjana", ujar Abuelaish.

Ia bersikeras keadilan mungkin bisa saja didapatkan melalui sistem pengadilan Israel. Sehingga dapat menjadi "titik balik" agar Israel meminta maaf atas pembunuhan warga sipil tak berdosa.

Namun, Abuelaish akan mengambil langkah lain jika cara itu tidak berhasil.

Menurutnya, uang kompensasi akan disumbangkan bagi operasional sekolah yang didirikan oleh badan amalnya, "Daughters for Life" di Palestina, Israel, Yordania, Afghanistan dan Kanada, serta tempat tinggal ia bersama sisa anak-anaknya.

Abuelaish menceritakan, Putri sulungnya, Shatha, pernah mengalami masa sulit. Ketika harus belajar hanya dengan cahaya lilin selama konflik berlangsung.

Meskipun terluka, Shatha bisa mendapatkan nilai mendekati sempurna.

"Saya marah karena kami harus berjuang untuk itu. Korban harus meminta keadilan", katanya.

Abuelaish pertama kali mengambil tindakan hukum terhadap Israel pada tahun 2010, tetapi sidang kasusnya ditunda hingga tahun ini.

Pekan lalu, kelompok HAM Israel B'Tselem menerbitkan laporan berisi kritikan terhadap sikap Israel dalam membayar kompensasi korban konflik di Palestina.

Menurut laporan, hukum Israel diperluas untuk memberikan "perlindungan" bagi militernya, yang bertentangan dengan hukum internasional. (Anadolu Agency)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.