Gabungan ormas Islam itu menyatakan, rencana pembangunan gereja tidak melibatkan penduduk setempat

Sejumlah korban bentrokan aksi massa penolakan gerja di Bekasi
“Aksi Tolak Gereja Liar Santa Clara” di Jl Lingkar Bekasi Utara, Kelurahan Harapan Baru, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jum'at (24/3) kemarin, berakhir tidak sesuai harapan.

Aparat kepolisian menembaki dan melepas gas air mata kepada ribuan massa warga Bekasi yang melakukan demo itu.

Koordinator lapangan (korlap) aksi, Ismail Ibrahim, menduga kekerasan terjadi karena adanya provokator yang ingin membenturkan massa umat Islam dengan aparat kepolisian.

“Kita tadi dari awal (aksi) sudah sampaikan bahwa ini aksi damai”, ujarnya, dikutip Hidayatullah.

“Cuman, wallahu a’lam (siapa yang menjadi provokatornya)", lanjutnya.

Ia menegaskan, Majelis Silaturahim Umat Islam Bekasi (MSUIB) yang jadi penggerak aksi sudah kompak akan menggelar aksi secara damai.

“Kita menunjukkan bagaimana penolakan masyarakat saja (atas pembangunan gereja). Eh, ada provokator, terjadilah (kericuhan) yang kayak tadi itu”, ujarnya.

Menurut Ismail yang juga Pelaksana Harian MSUIB, ada pihak yang ingin mengadu domba antara ulama dengan aparat.

Sekitar pukul 13.30 WIB atau sebelum kericuhan, panitia aksi awalnya memindahkan mobil komando massa ke arah mendekati gerbang Gereja Santa Clara.

Tiba-tiba, ada lemparan botol air mineral dari dalam pagar Gereja Santa Clara dan mengenai sebagian massa. Sehingga terjadilah pelemparan dari dua arah.

Lama-lama lemparan dari dalam pagar gereja berupa batu. Lemparan itu terjadi berkali-kali.

Ismail mengaku tidak melihat. Karena pelempar batu berada di belakang pagar seng, jadi mereka tak dikenali

Saat itu massa tidak bubar dan tetap bertahan di lokasi aksi. Ismail bersama korlap lain menenangkan massa hingga mulai tenang.

Tiba-tiba, ada tembakan gas air mata dari arah dalam pagar Gereja Santa Clara yang memang dijaga ketat kepolisian. Disusul tembakan serupa puluhan kali. Maka jatuhlah banyak korban.

Versi polisi, kericuhan terjadi karena massa yang mendesak masuk ke dalam gereja, namun dihalangi kepolisian, sekitar pukul 14.00 WIB.

Sebagian orang mulai melempar botol minuman dan bebatuan ke arah aparat yang berjumlah sekitar 500 personel.

Karena kericuhan itulah, polisi mulai menembakkan gas air mata dan membuat suasana semakin memanas.

Menurut CNN Indonesia, aparat keamanan yang awalnya ada di dalam gereja ikut keluar membantu aparat yang menghalagi para demonstran masuk ke gereja.

Akibat bentrokan, 4 warga dilaporkan jadi korban. Ada yang pelipisnya pecah berdarah-darah, hingga yang terkena gas air mata.

Foto-foto yang beredar di media sosial, serta sejumlah media Islam mengkonfirmasi itu.

Dalam demo itu, massa menuntut penyegelan aktivitas pembangunan, karena merasa izinnya masih "status quo".

Gabungan ormas Islam itu menyatakan, rencana pembangunan gereja tidak melibatkan penduduk setempat.

Mereka juga menyebut pembangunan gereja berpotensi menghapus sejarah Bekasi Utara sebagai daerah santri. (Hidayatullah/CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.