Hari itu menjadi babak baru "perjuangan" mereka, yaitu membangun organisasi "benteng" baru, yang diyakini untuk membela agama Buddha dan negara

Biksu Myanmar Melakukan Ritual Saat Konferensi Mandalay (rfa.org)
Ribuan biksu Buddha Myanmar berkumpul, termasuk pemimpin kontroversial gerakan anti-Muslim Ashin Wirathu.

Rabu itu (13/1/2014), menjadi babak baru "perjuangan" mereka, yaitu membangun organisasi "benteng" baru, yang diyakini bertujuan membela agama Buddha (Theravada) dan negara.

Pertemuan diselenggarakan di kota Mandalay. Mereka meluncurkan Organisasi Perlindungan Ras, Agama, dan Kepercayaan atau yang dikenal sebagai Ma Ba Tha.

"Membentuk asosiasi ini membuat kita jadi lebih kuat, seolah membangun sebuah benteng di Myanmar yang tidak bisa dihancurkan oleh orang-orang dari agama lain", ujar Raza Dhamma, penyelenggara konferensi kepada rohaniawan Buddha nasionalis.

Menurutnya, asosiasi akan menjaga identitas kebangsaan dan agama Buddha agar tetap bertahan di Myanmar.

Gelombang sentimen anti-Muslim menyebar di seluruh komunitas Myanmar yang didominasi Buddhisme ini, terutama sejak pemerintah sipil mengambil alih di tahun 2011.

Biksu terkemuka dari seluruh negeri berpartisipasi dalam pertemuan bela agama di Mandalay, termasuk biksu radikal Ashin Wirathu, yang lebih dulu mentereng sebagai pemimpin kampanye nasional kontroversial, bernama "Gerakan 969" yang kabarnya didukung militer.

Gerakan tersebut mengklaim ancaman dari minoritas Muslim terhadap keberadaan mayoritas Buddha.

Kalangan biksu radikal memang dituduh sebagai biang kerok kebencian dan memicu kekerasan SARA.

Kekerasan anti-Muslim pada 2012 dan 2013 menewaskan lebih dari 200 orang. Menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal, sebagian besar Muslim.

Bentrokan pertama meletus di negara bagian Rakhine, rumah bagi minoritas Muslim Rohingya yang tak diakui sebagai warga negara.

Kemudian, menyebar ke komunitas-komunitas Muslim di negara bagian lainnya.

Saat itu, berbagai kelompok HAM menyebut Muslim Rohingya menanggung kerugian paling buruk. Aktivis juga menyalahkan kampanye anti Islam para biksu radikal, karena memprovokasi ketegangan berbalut SARA.

Aksi Bela agama Buddha
Di tengah gelombang isu SARA, beberapa biksu di konferensi Mandalay menyatakan "hidup berdampingan dengan agama lain adalah hal penting dalam mempertahankan agama Buddha".

Nyanissara, salah satu rohaniawan terkemuka, dalam pertemuan itu melontarkan sebuah pernyataan. Menurutnya, upaya biksu Buddha mempromosikan dialog antar agama telah membantu meredakan ketegangan antar komunitas.

"Kita semua, dari berbagai agama dan suku bangsa, harus paham bahwa hidup berdampingan di negeri Myanmar harus dilakukan secara damai, aman, saling pengertian dan rasa hormat", katanya.

Dalam sambutan itu, ia mendesak para rohaniawan tidak marah jika ada orang luar menuduh mereka menghasut kekerasan.

"Jika orang-orang dari negara lain menuduh kita sebagai biksu teroris, jangan marah atau kesal.
Jika kalian melakukannya, ini berbahaya bagi kesatuan komunitas biksu", pintanya.

"Pertemuan ini telah mendorong dukungan untuk melindungi agama dan bangsa", kata Nyanissara.

Buddha nasionalis memiliki corak perjuangan, yaitu apa yang disebut bela agama dan negara. Mereka menginginkan dominasi agama Buddha di segala aspek negara Myanmar.

Pada konferensi tahun 2013 di Yangon, para biksu mendukung usulan Wirathu mengenai undang-undang baru yang membatasi pernikahan beda agama.

Mereka menolak wanita Buddha "murtad" lewat pernikahan. Komunitas Muslim disalahkan atas hal ini.

(Tapi perlu dicatat, semua rohaniawan Buddha tak menikah dengan maksud mencapai ketinggian spiritual. Ibarat negerinya para "santri Buddha", sangat banyak biksu dan calon biksu di Myanmar)

Gerakan 969 dan komunitas biksu lainnya berusaha mengumpulkan tanda tangan atau dukungan bagi anggota parlemen soal UU.

Sejak 2013, para biksu mengampanyekan sikap "tak mau ekonomi dikuasai oleh Muslim".

Wirathu menyeru warga Buddha memboikot pertokoan milik Muslim atau menghindari relasi dengan mereka. Ia mengklaim Muslim menguasai ekonomi Burma.

"Jika kalian berbelanja di toko Muslim, uang kalian tidak berhenti di situ", kata Wirathu dalam khotbah pada Februari 2013.

Biksu radikal ini menakut-nakuti, jika Muslim itu pintar dan suatu saat akan mengancam Buddha.

"Uang itu pada akhirnya akan digunakan untuk melawan kalian, untuk menghancurkan bangsa dan agama (Buddha). Uang itu akan digunakan menjerat wanita Buddha-Myanmar dan akan dipaksa masuk Islam", ujar Wirathu.

"Jika (jumlah Muslim) menjadi banyak, mereka akan membanjiri kita dan merebut negara, menjadikannya sebuah negara Islam yang jahat", katanya.

Wirathu yakin, sebagian besar Muslim adalah "orang jahat".

Beberapa Muslim memang mencapai kekayaan besar dalam sektor tertentu, seperti konstruksi. Namun, sebenarnya masih jauh dari gagasan dominasi ekonomi, seperti provokasi ketakutan dari para biksu garis keras.

Isu-isu ketakutan penurunan populasi Buddha pun berlangsung di Rakhine. Terlebih daerah ini terdapat populasi besar Muslim Rohingya.

Masalah SARA sensitif makin meruncing dengan ditambahi fakta lapangan, bahwa masyarakat Buddha daerah itu banyak yang miskin dan "dianaktirikan" oleh pemerintah pusat.

Seolah beriringan dengan ide-ide Buddha nasionalis, "Rohingya imigran ilegal adalah harga mati". Pengakuan kewarganegaraan dikhawatirkan membuat negara bagian Rakhine jatuh ke tangan Muslim.

Konflik horizontal berbau SARA meletus. Pergesekan anggota komunitas menjadi perang SARA. Sekitar 1 juta Rohingya merasakan dampaknya karena aparat keamanan Myanmar memihak.

Hingga hari ini, Ma Ba Tha tetap 'istiqomah' mempropagandakan ancaman Muslim. Bahkan menyebut nama Rohingya saja tak disukai. Tak ada kata 'Rohingya' dalam kamus nasionalis Buddha.

Mereka ingin Muslim Rohingya disebut "Bengali", sebuah julukan buruk yang berarti "imigran ilegal dari Bangladesh".

Menurut sumber Risalah, seorang relawan kemanusiaan Indonesia yang pernah menembus Sittwe (Rakhine), di masa lalu warga Rohingya pintar berdagang.

Terutama dengan cara mengambil stok murah dari Bangladesh untuk dijual ke Myanmar.

Sebelum pecah kerusuhan 2012, kondisi kehidupan rata-rata Muslim lebih baik daripada rata-rata warga Rakhine.

Kini, ratusan ribu warga Rohingya hanya tinggal di kamp-kamp isolasi tak layak. Pemerintah Myanmar beralasan hal ini dilakukan terkait masalah keamanan.

Sebenarnya ada 2 jenis kamp Rohingya, yaitu pengungsi sejak puluhan tahun lalu. Atau kamp yang diisi pasca kerusuhan beberapa tahun lalu.

Kehidupan buruk di tempat isolasi, membuat kehidupan Rohingya jauh tertinggal. Kualitas SDM tak disokong pendidikan, kualitas layanan medis sangat buruk. Bahkan hak dasar mencari penghidupan ekonomi sangat terbatas.

(RFA/The Atlantic/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.