Dokter di Suriah frustrasi oleh ketidakpedulian dan ketidakmampuan masyarakat internasional dalam mengatasi penggunaan klorin dari Assad

Ilustrasi (Al-Jazeera)
Senjata kimia menjadi salah satu kejahatan mencolok dalam perang Suriah. Bahan kimia yang digunakan adalah gas klorin, gas syaraf sarin, dan gas mustard.

Meski 1.300 ton gas sarin dan bahan pembuatnya telah dilucuti dari Suriah, namun serangan kimia tetap terjadi di negeri ini, terutama gas klorin.

"Kami pertama kali melihat klorin digunakan sebagai senjata di Suriah adalah tahun 2014", ujar Ole Solvang, wakil direktur divisi darurat di Human Rights Watch (HRW).

Februari lalu, HRW dan Solvang menuliskan laporan dokumentasi 8 kasus penggunaan klorin oleh rezim Assad saat berupaya merebut kota Aleppo.

Kejadian berlangsung antara 17 November hingga 13 Desember 2016. HRW memverifikasi serangan melalui analisis rekaman video, posting, media sosial, dan wawancara saksi.

Laporan itu mengungkap, serangan klorin menewaskan sekitar 9 orang, termasuk 4 anak-anak, dan membawa masalah bagi 200 orang lainnya. Serangan gas tersebut dikategorikan sebagai kejahatan perang.

"Hal ini, tentu saja, mengerikan karena merupakan pelanggaran dari Konvensi Senjata Kimia. Suriah ikut aturan itu", jelas Solvang.

"(Serangan) Ini... Benar-benar merusak larangan terberat dalam hukum humaniter (perang) internasional. Kami sungguh khawatir penggunaan oleh rezim akan merusak larangan ini dan mengurangi kepatuhan negara lain dari pemakaiannya (klorin)", keluhnya.

Konvensi itu merupakan aturan pelarangan senjata kimia pertama (sejak 1993) yang mengikat secara internasional.

Konvensi dibuat oleh Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), lembaga dukungan PBB.

Agustus 2013, rezim Assad melancarkan serangan gas Sarin di Ghouta. Dalam sekejab membunuh lebih dari 1.000 orang (400 diantaranya adalah anak-anak), menurut laporan Dewan Keamanan PBB.

Image result for ghouta gas attack
Korban gas Sarin pada 2013

Untuk meredam ancaman militer pemerintah Obama, Assad bergabung dalam konvensi.

Tapi tidak ada sanksi internasional berarti karena Rusia membela Damaskus. Kesepakatan negara-negara besar hanya memberlakukan pelucutan senjata kimia dan bahannya dari tangan rezim Assad.

Hal itu sama sekali tak menghapus penggunaan gas kimia oleh rezim. Sarin berganti menjadi klorin, gas yang merusak karena menjadi asam klorida (HCl) jika bereaksi dengan air.

Sejak 2014, HRW bahkan telah mendokumentasikan 24 serangan klorin di Suriah. Jumlah korban tercatat sekitar 32 orang.

Klorin sangat memengaruhi sitem pernapasan. Awan berwarna kuning kehijauan segera membuat sesak napas, bahkan kegagalan pernafasan, iritasi di mata, muntah, hingga kematian, akibat daya rusak asam klorida.

Klorin juga dapat meneror psikologis korban. Efek kimianya memicu rasa takut, shock, dan panik secara massal.

Dalam kasus Aleppo, Solvang curiga, rezim menggunakan klorin untuk memaksa warga eksodus dari kota.

Menurutnya, bom klorin harus dihindari dengan mencari tempat berdiri yang tinggi.

"Orang-orang biasanya mencoba bersembunyi di bawah tanah ketika mendengar ledakan. Namun, konsentrasi Klorin lebih tinggi di ruang bawah tanah, sehingga mereka yang berlindung di sana rentan pada kematian. Ini perangkap", jelasnya.

Sementara Zaher Sahloul, mantan presiden Perkumpulan Medias Amerika-Suriah (SAMS) juga menceritakan kengerian gas kimia.

"Ini menakutkan, di rumah sakit kecil terdapat puluhan, bahkan ratusan, pasien yang membutuhkan. Tapi anda tidak tahu apa yang sanggup dilakukan atas semua itu", kata Sahloul.

SAMS juga memonitor soal serangan klorin di Suriah. Dalam catatannya, terdapat 109 serangan klorin sejak perang dimulai tahun 2011.

"Alasan utama penggunaan Klorin di Suriah adalah menimbulkan kepanikan dan memaksa orang melarikan diri", ujar Sahloul.

Klorin pertama kali digunakan sebagai senjata oleh Jerman saat menyerang tentara Perancis, Inggris, dan Kanada di medan perang Ypres, Perang Dunia I.

Satu dekade kemudian, Protokol Jenewa 1925 melarang penggunaan senjata kimia.

Meskipun memiliki efek mematikan, klorin tidak diklasifikasikan ke dalam kategori yang sama seperti sarin ataupun gas mustard.

Klorin ada dalam zona abu-abu hukum internasional. Penggunaannya dilarang hanya sebagai senjata kimia.

"Perbedaan antara klorin dan sarin adalah, klorin masih punya stok untuk digunakan (sebagai senjata)", jelas Sahloul.

"(Karena) Klorin digunakan pada banyak hal bermanfaat lainnya, seperti penjernihan air dan industri lainnya. Itulah mengapa rezim Suriah menggunakan klorin, karena mudah diperoleh", ungkapnya.

Puluhan juta ton senyawa klorin masih diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya.

Selain populer untuk mensterilkan air, zat ini juga bermanfaat dalam pembuatan obat-obatan, antiseptik, industri tekstil, pemutihan kertas, pemisahan logam dari bijih (seperti emas, nikel, dan tembaga) serta sebagai bahan kimia rumah tangga (seperti perekat).

Penggunaannya di berbagai industri secara luas membuatnya sulit dikendalikan atau diatur pengawasannya.

OPCW memimpin misi pencari fakta pada tahun 2014 untuk menyelidiki serangan klorin di Suriah. Mereka tidak dapat mengkonfirmasi jumlah serangan.

Namun dalam konferensi pers menyatakan adanya bukti bahwa klorin digunakan secara "sistematis dan berulang kali".

Sayangnya, situasi genting di medan tempur membuat penyelidik kesulitan memverifikasi setiap serangan, dan pelaku pastinya. Apakah rezim, pasukan oposisi, atau ISIS?

Meski dugaan terkuat selalu mengarah pada rezim, karena memiliki helikopter untuk menyebar bom kemana-mana.

Agustus tahun lalu, penyelidikan PBB menemukan "bukti yang cukup" dari tiga kasus serangan senjata kimia, yang terjadi antara tahun 2014-2015.

Dua diantaranya adalah serangan gas klorin terhadap warga sipil oleh angkatan udara Assad. Lainnya adalah serangan gas mustard oleh militan ISIS.

Menanggapi hasil investigasi PBB, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada 18 pejabat militer Suriah, Januari lalu, menurut pernyataan Departemen Keuangan.

Bulan lalu, AS, Perancis, dan Inggris mengajukan rancangan resolusi ke Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi internasional bagi pejabat militer Suriah atas keterlibatan penggunaan klorin.

Namun upaya ini gagal, setelah Rusia dan China menggunakan hak veto terhadap usulan tersebut.

Dokter menyerah
"Para dokter, terutama yang di Suriah, sudah menyerah soal masalah ini", ujar Sahloul.

Sahloul frustrasi oleh ketidakpedulian dan ketidakmampuan masyarakat internasional dalam mengatasi penggunaan klorin.

Ia juga merasa skeptis mengenai pertanggung jawaban rezim Assad.

"Ada banyak upaya mendokumentasikan semua kasus ini. Ada kesaksian di Dewan Keamanan (PBB), ada resolusi, ada atribusi, dan kemudian tim investigasi. Tapi tidak ada yang terjadi. Saya pikir, saat ini orang-orang menyerah di Suriah", imbuhnya.

Sahloul meminta Assad mengakhiri kebrutalannya dalam menggunakan serangan klorin.

"Saya ingin dia (Assad) melihat wajah anak-anak yang terbangun karena tersedak (gas kimia) di tengah malam", katanya. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.