Setelah terlibat perang mulut keras dengan Belanda, Turki kini sebut Jerman berperilaku seperti Nazi

Demo di depan Kedutaan Belanda di Ankara, selain Jerman, Turki berselisih keras dengan Belanda
Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus menyatakan penggunaan metafora Nazisme untuk Eropa adalah sebagai pengingat, agar mereka tidak jatuh lagi ke dalam perangkap ideologi itu.

Berlin dan Ankara berselisih setelah pemerintah Jerman melarang beberapa menteri Turki mengadakan kampanye referendum di sana.

Beberapa alasan yang digunakan adalah masalah keamanan hingga tempat parkir gedung.

Jerman kemudian dibuat marah oleh Erdogan yang berulang kali menuduh negara itu menerapkan "metode Nazi".

Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan menuntut Turki segera berhenti membuat perbandingan seperti itu.

Soal pelarangan menteri Turki, Merkel mengatakan, pihaknya berhak melarang kampanye jika tidak mematuhi hukum Jerman.

Kurtulmus merespon, menurutnya Turki hanya berusaha memperingatkan Eropa atas meningkatnya rasisme (benih fasisme).

"Kami membuat metafora tentang fasisme dan Nazisme karena khawatir tentang masa depan teman-teman kami di Eropa. Kami tahu arti dari komentar ini, khususnya bagi Jerman", ujar Kurtulmus dalam konferensi pers di Istanbul.

"Eropa adalah orang-orang yang paling menderita akibat fasisme dan Nazisme di akhir Perang Dunia juga Perang Dunia II. Kami melihat dan mendengar langkah kaki fasisme serta Nazisme saat ini", katanya.

"Kami tidak mengatakan ini untuk menyakiti mereka (Eropa)... Kami mengatakannya agar mereka mengingat hari-hari berdarah sejarah Eropa, dan tidak jatuh ke dalam perangkap fasisme. Kami mengatakannya agar mereka dapat mengambil tindakan pencegahan", klaim Kurtulmus.

Menurut Kurtulmus, Eropa berperilaku anti-demokrasi dengan melarang menteri Turki berbicara dengan warganya di kota-kota Eropa.

Sebaliknya, demonstrasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) malah diizinkan. Kelompok tersebut dimasukkan sebagai teroris oleh Turki.

Sekitar 30.000 pendukung pemberontakan Kurdi berunjuk rasa di Frankfurt, Jerman, Sabtu lalu.

Mereka meneriakkan: "Erdogan teroris" dan "kebebasan untuk Ocalan". Abdullah Ocalan merupakan pemimpin PKK yang dipenjara.

Inilah yang membuat Turki kesal dengan Jerman. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.