Satu bangunan yang hancur akibat ledakan, dengan banyak warga sipil di dalamnya

Anggota Counter Terrorism Service (CTS) di reruntuhan bangunan setelah serangan serangan udara terhadap ISIS memicu ledakan besar di Mosul, Irak. (29/3/2017. REUTERS)
Komandan militer pimpinan AS, yang mendukung pasukan Irak pada Selasa (28/3) mengaku bahwa serangan koalisi "mungkin" memiliki peran atas kematian banyak warga sipil di distrik al-Jadida.

Insiden 17 Maret itu masih jauh dari jelas. Jika jumlah korban cukup tinggi, ini dapat berisiko merusak langkah pemerintah Syi'ah menjauhkan konflik sektarian dengan Muslim Sunni Mosul.

Yang cukup menarik perhatian adalah, terdapat satu bangunan yang hancur akibat ledakan, dengan banyak warga sipil di dalamnya.

Para pejabat koalisi AS mengatakan, terdapat serangan udara di sekitar ledakan al-Jadida hari itu.

Sementara para pejabat Irak mengklaim tidak ada bukti bahwa ledakan serangan udara mengenai bangunan, dan membuka teori bangunan telah dipasangi bahan peledak oleh ISIS.

Penyelidik masih berusaha mengungkap mengenai misteri bangunan tersebut.

Ada dua kemungkinan alasan warga terkumpul di satu tempat: Dipaksa masuk oleh ISIS agar menyebabkan korban sipil secara sengaja, atau warga sendiri yang masuk untuk berlindung dari pertempuran terbuka.

Ghazwan al-Dawoodi, kepala dewan HAM di provinsi Niniwe, mengaku timnya sudah melakukan kunjungan lapangan.

Mereka menyebut militan memaksa warga ke bungker, dan menembaki helikopter tempur untuk memprovokasi serangan udara.  Namun belum ada verifikasi independen.

Dua saksi mata menyebut ISIS memarkir truk penuh bahan peledak di sebelah gedung tersebut.

Di lain pihak, pendukung ISIS mengekspose pembantaian di Mosul oleh serangan udara AS.

Menurut penduduk setempat dan saksi mata, militan ISIS memang berada di al-Jadida pada hari ledakan, berkonfrontasi dengan pasukan Irak.

Serangan udara mulai menargetkan posisi ISIS untuk mengamankan jalan bagi pasukan. Beberapa ledakan menghantam daerah di belakang rumah sakit setempat.

"Kami terjebak di dalam rumah kami saat bom diintensifkan. Serangan udara menargetkan empat jalan tepat di belakang rumah sakit Rahma dan masjid Fathi", ujar warga bernama Abu Ayman.

"Itu adalah Jum'at yang mengerikan", ujar Ahmed Obeida, saksi mata lain.

"Dimulai dengan ledakan besar yang mengguncang, diikuti oleh serangkaian ledakan. Kami menunggu selama tiga jam dan setelah pemboman berhenti, saya melihat banyak rumah hancur. Kami menemukan beberapa bagian tubuh dalam reruntuhan", kisahnya.

Para pekerja penyelamat masih berusaha menarik mayat dari reruntuhan hingga Rabu (29/3). Pekerjaan terhambat karena kurangnya alat berat dan ancaman bom drone ISIS.

Seorang pejabat kesehatan provinsi Nineveh menyebut 250 mayat ditemukan per Selasa malam.

Berbeda dari keterangan tokoh militer Irak yang mengklaim jumlah korban sekitar 61 jiwa. (Reuters)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.