Tercatat sekitar 652 anak meninggal sepanjang 2016. Dari jumlah itu, 255 anak-anak tewas saat di dalam atau di dekat sekolahnya

Ilustrasi (Al Jazeera)
UNICEF menerbitkan sebuah laporan pada Senin (13/3). Menurut lembaga tersebut, 2016 adalah tahun terburuk bagi anak-anak Suriah sejak masa perang dimulai 2011 lalu.

"Pembunuhan dan perekrutan anak-anak meningkat tajam tahun (2016) lalu. Terjadi peningkatan kekerasan secara drastis di seluruh negeri", menurut laporan itu.

Tercatat sekitar 652 anak meninggal sepanjang 2016. Dari jumlah itu, 255 anak-anak tewas saat di dalam atau di dekat sekolahnya.

Jumlah korban anak meningkat 20% dibandingkan tahun 2015. Setidaknya masih ada 647 anak dilaporkan terluka.

Selain sekolah, pelanggaran lain adalah 338 serangan diarahkan ke rumah sakit dan tenaga medis. Lokasi anak-anak Suriah dirawat.

Dalam satu insiden di bulan November, media Al-Jazeera berhasil menangkap momen saat serangan udara menghantam rumah sakit anak di Aleppo timur.

Staf medis terpaksa mengevakuasi pasien, termasuk beberapa bayi baru lahir yang masih menggunakan inkubator.

"Penderitaan seperti ini adalah belum pernah terjadi", ujar Direktur Regional UNICEF Geert Cappelaere.

"Jutaan anak di Suriah diserang setiap hari... Setiap anak ketakutan, mengkhawatirkan kesehatan, kesejahteraan dan masa depan (mereka)", imbuhnya.

Selain kematian, UNICEF juga mencatat lebih dari 850 anak direkrut dalam perang. Jumlah ini dua kali lipat dibanding pada 2015.

"Anak-anak direkrut untuk bertempur secara langsung di garis depan, dalam kasus ekstrim, mereka dijadikan algojo, pelaku bom bunuh diri atau penjaga penjara", ungkapnya.

Kemudian, dalam enam tahun konflik, hampir 6 juta anak bergantung di bawah bantuan kemanusiaan, atau 12x lipat dari jumlah tahun 2012. Bahkan, jutaan anak terpaksa mengungsi beberapa kali.

Laporan valid menjadi tantangan di beberapa wilayah Suriah. Mengingat 2,8 juta anak tinggal di daerah yang sulit dijangkau, termasuk 280.000 hidup di bawah pengepungan atau terputus dari bantuan kemanusiaan.

"Di luar bom, peluru dan ledakan, anak-anak mati tanpa diketahui karena penyakit yang sebenarnya mudah dicegah", kata laporan itu.

"Akses ke perawatan medis, persediaan obat, dan layanan dasar lainnya tetap sulit", tambah laporan.

Sekitar 2,3 juta anak Suriah hidup sebagai pengungsi di Turki, Lebanon, Yordania, Mesir, dan Irak.

Mereka yang kembali ke daerah asal, rentan pada risiko yang mengancam jiwa seperti sisa bom yang belum meledak.

Majed (13) dan temannya Omar (11) menjadi salah satu korban "ranjau". Januari lalu, mereka menuju sebuah taman umum di Aleppo timur untuk bermain sepeda.

Saat di jalan, mereka menemukan benda logam asing.

"Itu terlihat seperti kaleng soda. saat aku menginjaknya, benda itu meledak", ujar Majed.

Pecahan kaleng merobek wajah dan tubuh Majed, menyebabkan beberapa ususnya harus diangkat. Tapi ia beruntung karena kakinya tidak perlu diamputasi.

Tapi Omar tidak berhasil dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal di dalam taksi lima menit setelah dua orang menyelamatkan mereka. (Al-Jazeera).
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.