Houthi berusaha mengirim 7.000 mahasiswa dari Yaman lewat beasiswa agar "dididik" ke Qom, kota suci Syi'ah Iran

Wakil Tetap Yaman untuk PBB, Khaled Al-Yamani (middleeastmonitor.com)

Pemerintah Yaman pada Sabtu (18/2) mengajukan keluhan kepada PBB atas provokasi Iran dalam "mengganggu" negara tetangga.

Menurut wakil Yaman di PBB, Khaled Al-Yamani, Iran terus menghasut kecamuk perang di negaranya, serta menyebabkan konfrontasi di jalur pelayaran selatan Laut Merah, selat Babul Mandab.

Dalam surat resmi Yaman ke Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Iran disebut telah mendanai milisi Houthi.

Memberi bantuan militer ilegal, seperti pelatihan tempur, senjata dan amunisi. Yang melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2231.

Pemimpin pemberontak Syi'ah, Abdul-Malik al-Houthi, mengatakan dalam sebuah pidato televisi Jum'at (10/2), bahwa mereka mulai memproduksi drone pengintai.

Hal ini dianggap pemerintah Yamnn sebagai bukti keterlibatan Iran dalam memasok senjata dan membantu alih teknologi.

Al-Yamani juga mengungkapkan, milisi Houthi masih menerima pelatihan dari Garda Pengawal Revolusi dan kelompok teror Hezbollah Lebanon.

Milisi diajari penggunaan senjata modern yang dijarah dari gudang angkatan bersenjata Yaman, maupun senjata selundupan dari Iran.

"Pemberontak Houthi dan loyalis (mantan diktator) Saleh telah meluncurkan rudal balistik secara tidak bertanggung jawab, menargetkan wilayah perbatasan Kerajaan Arab Saudi. (Menyebabkan) ratusan korban luka-luka serta kerusakan infrastruktur, termasuk sekolah dan rumah sakit", ujar al-Yamani dalam memonya itu.

Houthi juga menyerang kapal-kapal di daerah Laut Merah menggunakan sistem yang mirip dengan militer Iran di Selat Hormuz.

Rudak balistik Qaher-1 dan Zelzal-3 yang digunakan dalam serangan itu dianggap sebagai produksi/pengembangan versi Iran, menurut komite ahli Yaman.

Selain itu, Houthi berusaha mengirim 7.000 mahasiswa dari Yaman lewat beasiswa agar belajar ke Qom, kota suci Syi'ah Iran.

Namun, Menteri Pendidikan Abdullah Lamlas menghentikan upaya tersebut. Ia tidak menerima kurikulum asing yang bertentangan dengan karakteristik dan keyakinan masyarakat Yaman.

Kurikulum pendidikan yang sesuai dianggap sebagai cara penting membangun Yaman di bawah pemerintahan sah.

Kudeta yang dilakukan Houthi menciptakan masalah infrastruktur dan kurikulum pendidikan, seperti pengenalan tentang sektarianisme dan revolusi (Syi'ah).

Iran sendiri kerap membantah memberi bantuan pada Houthi, meski secara politik mendukung secara terang-terangan. (Arabnews)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.