Pernyataan dikeluarkan setelah serangan komando AS, akhir Januari lalu, mengakibatkan jatuhnya korban sipil

Wilayah Yaman termasuk wilayah operasi AS

Yaman dilaporkan menarik izin bagi pasukan AS yang melakukan misi antiteror. Pernyataan dikeluarkan setelah serangan komando AS, akhir Januari lalu, mengakibatkan jatuhnya korban sipil.

The New York Times melaporkan pada Selasa (7/2), Gedung Putih dan pemerintah Yaman telah mengumumkan pembekuan.

Laporan tidak menjelaskan apakah keputusan Yaman dipengaruhi kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump, yang memasukkan negara itu dalam blacklist sementara.

Pusat Komando AS mengakui "ada kemungkinan" warga sipil menjadi korban akibat serangan pesawat tempur.

Insiden terjadi saat baku tembak pasukan khusus AS dengan milisi al-Qaeda Yaman (AQAP).

The Times melaporkan, foto-foto anak yang tewas akibat serbuan AS menyebabkan kemarahan di Yaman. Beberapa korban adalah warga AS sendiri.

Bahkan pemimpin AQAP menyuarakan kecamannya atas serangan itu, karena lebih dari 23 warga sipil meregang nyawa.

Pentagon membantah laporan yang menyebut serangan sebagai operasi direncanakan. Pentagon berkilah, serangan itu sifatnya "tingkat rendah".

Menurut juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis, militer AS hanya berencana menyisir wilayah tersebut.

Ketika baku tembak pecah, tim lapangan "memanggil bantuan agar bisa keluar dengan selamat".

Anggota Navy SEAL, William "Ryan" Owens, ikut tewas akibat serangan dan tiga anggota lainnya terluka.

Menurut Pusat Komando, baku tembak menggunakan senjata ringan, granat tangan dan dukungan serangan udara. (Foxnews)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.