Sebelumnya Ahok mempertanyakan mengapa ia harus minta maaf

Sidang kedelapan Ahok pada kasus dugaan penistaan agam (Antara foto)

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin.

Ia juga tidak akan melaporkan KH Ma'ruf Amin ke polisi karena dituding memberikan keterangan palsu saat menjadi saksi dalam sidang penistaan agama.

Kisruh antara Ahok dan KH Ma’aruf Amin terus menuai gelombang protes.

Sikap Ahok dianggap tak menghormati Kyai Muslim dan dinilai sudah kelewat batas, sehingga bisa memicu kemarahan sejumlah pihak.

Dalam permohonan maafnya, Ahok menyampaikan kalau ia  menghormati KH Ma’aruf Amin sebagai sesepuh NU, seperti halnya tokoh-tokoh lain di NU, Gus Dur dan Gus Mus.

Dengan permohonan maaf ini, Ahok berharap dapat menjernihkan persoalan yang ada.

Selain itu, ia juga berharap agar pihak-pihak lain tidak memperkeruh suasana.

Sebelumnya Ahok mempertanyakan mengapa ia harus minta maaf.

"Aku nggak ngerti kenapa kita yang minta maaf. Itu yang penghasut adu domba, yang adu domba kan jubir, memang kita ada apa? Nggak ada apa-apa, makanya harus meredakan suasana itu yang adu domba itu yang dilempengin", kata Ahok.

Ia merasa ada yang ingin membenturkannya dengan PBNU.

"Aduh itu ya, saya pikir itu kacau juga tuh, gini ya, politik sama Pilkada itu jadi sadis tahu nggak. Ini orang tua, ini pak kiai. Rais PBNU lagi. Selama ini kan NU yang paling bela saya", lanjutnya.

Berikut klarifikasi dan permohonan maaf Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kepada KH Ma'ruf Amin, Rais Aam PBNU dalam keterangan tertulisnya, Rabu 1 Februari 2017.

Bahwa saya ingin menegaskan bahwa apa yang terjadi kemarin merupakan proses yang ada dalam persidangan, saya sebagai terdakwa sedang mencari kebenaran untuk kasus saya. Untuk itu saya ingin menyampaikan klarifikasi beberapa hal di bawah ini:

1. Saya memastikan bahwa saya tidak akan melaporkan KH Ma'ruf Amin ke polisi, kalau pun ada saksi yang dilaporkan mereka adalah saksi pelapor, sedangkan Kyai Ma'ruf bukan saksi pelapor, beliau seperti saksi dari KPUD yang tidak mungkin dilaporkan.

2. Saya meminta maaf kepada KH Ma'ruf Amin apabila terkesan memojokkan beliau, meskipun beliau dihadirkan kemarin oleh Jaksa sebagai Ketua Umum MUI, saya mengakui beliau juga sesepuh NU. Dan saya menghormati beliau sebagai sesepuh NU, seperti halnya tokoh-tokoh lain di NU, Gus Dur, Gus Mus, tokoh-tokoh yang saya hormati dan panuti.

3. Terkait informasi telepon Bapak SBY ke Kiai Ma'ruf tanggal 7 Oktober adalah urusan Penasehat Hukum saya. Saya hanya disodorkan berita Liputan6.com tanggal 7 Oktober, bahwa ada informasi telepon SBY ke Kiai Ma'ruf, selanjutnya terkait soal ini saya serahkan kepada Penasehat Hukum saya.

(Vivanews/Detikcom)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.