Anggota Hamas di Jalur Gaza memilih Yahya Sinwar menjadi kepala biro politik Hamas di sana

Mantan pemimpin Hamas Jalur Gaza Ismail Haniyeh bersama Ketua terpilih Sinwar (AlJazeera)

Anggota Hamas di Jalur Gaza memilih Yahya Sinwar menjadi kepala biro politik Hamas di sana.

Sinwar mengambil alih jabatan April nanti dari PM Ismail Haniyeh, yang sudah menjabat selama dua periode.

Sinwar pernah dipenjara oleh Israel di tahun 1988 selama 23 tahun, serta menjadi pemimpin Hamas di penjara itu.

Sumber-sumber Palestina di Gaza menganggap Sinwar sebagai jembatan antara kelompok politik dan bersenjata Hamas, Brigade Izzedine al-Qassam.

Meski Sinwar bukanlah salah satu pendiri Izzedine al-Qassam, karena ia berada di penjara saat pendiriannya di tahun 1989.

"Terpilihnya Sinwar bukanlah sesuatu yang dramatis atau tidak terduga. Ini menunjukkan Hamas memiliki lembaga-lembaga demokratis dan pemimpin yang bisa maju ketika mereka terpanggil", ujar Osama Handan, pemimpin Hamas berbasis di Lebanon.

Sinwar diharapkan bisa membangun kelancaran hubungan Gaza dengan Mesir, serta menghindari konfrontasi militer melawan Israel, menurut sumber Palestina.

Jurnalis Israel Avi Issacharoff menilai, Sinwar memiliki "aura" politik berbeda. Menurutnya, Sinwar bukanlah tipe orang yang akan membawa warga Palestina beradu militer dengan Israel.

Tantangan pemimpin baru
Pemimpin baru Hamas akan menghadapi tantangan cukup berat: Masalah perang di Gaza, rekonsiliasi dengan saingannya, Fatah, serta pemulihan hubungan dengan Mesir.

Kairo dianggap memperlakukan Gaza yang dikontrol Hamas sebagai musuh daripada tetangga sesama Arab.

Dukungan Mesir pada Fatah juga akan memperkeruh suasana dalam kemenangan Sinwar ini.

Tantangan lainnya adalah pemerintahan AS dengan Donald Trump sebagai presiden.

"Hamas relatif (akan) terpengaruh oleh politik pemerintahan Trump. Tanpa harapan jalan selanjutnya akan lebih mudah. Sama seperti sekarang, atau bahkan jadi lebih buruk lagi", ujar Beverley Milton-Edwards, dari Brookings Doha Centre.

Namun menurut kepala kebijakan luar negeri Hamas, Hamdan, pihaknya tidak akan terpengaruhm pada kebijakan baru AS.

Hamas akan bertahan melawan pendudukan Israel sampai kemerdekaan dapat dicapai.

Soal konfrontasi militer dengan Israel, Hamdan mengatakan: "Itu hanya terjadi jika kami diserang duluan"

Pejabat Hamas juga tetap beranggapan, pembicaraan damai dengan Israel saat ini akan sia-sia.

Struktur Hamas
Meski Hamas merupakan "gerakan" (movement), tapi kelompok ini memiliki struktur yang beroperasi seperti sistem "federasi".

Wilayahnya mencakup Gaza, Tepi Barat, juga tahanan Hamas di penjara-penjara Israel, hingga anggota Hamas di luar negeri atau pengasingan.

Setiap federasi dapat memilih dewan konsultatif dan pemimpin lokal.

Hamas menggunakan konsensus atau pemilihan suara dalam pengambilan keputusan, bertujuan mencegah perilaku "diktator" para pemimpin. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.