Pemerintah Rusia tidak setuju terhadap penilaian Presiden AS Donald Trump pada Iran sebagai "negara teroris nomor satu"

Presiden Rusia Vladimir Putin
Pemerintah Rusia pada Senin (6/2) tidak setuju terhadap penilaian Presiden AS Donald Trump pada Iran sebagai "negara teroris nomor satu".

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, upaya AS membuka kembali kesepakatan nuklir Iran akan mengobarkan ketegangan di Timur Tengah.

"Jangan mencoba untuk memperbaiki apa yang tidak rusak", kata Ryabkov.

"Ini akan menjadi langkah negatif dan bagai menuangkan minyak pada api Timur Tengah", lanjutnya.

Trump dan Vladimir Putin sebetulnya berusaha memperbaiki hubungan AS-Rusia. Namun, perbedaan pandangan terhadap Iran mungkin dapat mempersulit pemulihan hubungan.

Trump mengatakan pada Fox News, bahwa Iran "mengabaikan" AS. Ia juga memberi label "negara sponsor teroris nomor satu" pada Teheran, menuduh pengiriman senjata ke "seluruh dunia".

Komentar ini dikeluarkan setelah pemerintahan AS menempatkan Iran dalam status pengawasan pasca aktivitas uji coba rudal balistik.

Menurut kantor berita Reuters, pemerintahan Trump sedang mengeksplorasi cara menegosiasi ulang kesepakatan 2015, antara Iran dan enam kekuatan dunia.

Saat itu Iran setuju menghentikan program nuklir sebagai ganti pengangkatan sanksi ekonomi.

"Rusia memiliki hubungan baik dengan Iran, kami bekerja sama pada berbagai isu, menghargai hubungan perdagangan kami, dan berharap untuk mengembangkannya lebih lanjut", ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

"Bukan rahasia bagi siapapun bahwa Moskow dan Washington memiliki pandangan bertentangan soal isu-isu internasional", tambahnya.

Namun, Trump telah berbicara tentang kemungkinan bekerja sama dengan Rusia untuk melawan ISIS. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.