Pernyataan yang diketuai oleh Ustadz Firanda Andirja itu memberikan anjuran mengikuti pilkada untuk memilih calon yang mudharatnya paling kecil bagi umat Islam

Ilustrasi Lambang Perhimpunan DPP Al-Irsyad (Gemaislam.com)
Organisasi Perhimpunan Al-Irsyad mengeluarkan fatwa keagamaan mengenai hukum kaum Muslimin dalam mengikuti Pilkada sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Pernyataan yang diketuai oleh Ustadz Firanda Andirja menjelaskan keharaman demokrasi karena bertentangan dengan syariat Islam.

Namun, untuk urusan pemilu maupun pilkada, satu hal yang harus ditekankan adalah pertimbangan mengurangi keburukan yang ditimbulkan oleh sistem.

Sehingga lewat sebuah pemilu atau pilkada, umat Islam boleh mengikutinya dengan maksud memilih calon yang paling ringan mudharatnya (keburukan) dan paling mungkin memberi maslahat pada umat, menurut berbagai penilaian.

Serta satu hal paling penting yang ditekankan Al-Irsyad adalah menjaga ukhuwah antara pihak yang ikut pilkada, maupun yang golput. Agar mereka tidak saling berselisih.

Berikut kutipan lengkap fatwa Perhimpunan Al-Irsyad, dikutip dari gemaislam.com:


بسم الله الرحمن الرحيم

Komite Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله الأمين وآله وصحبه أجمعين، وبعد

Hukum berpartisipasi dalam PILKADA

Dan anjuran menggunakan Hak Pilih


  1. Pada dasarnya sistim Demokrasi bukan berasal dari Islam dan kemudharatannya lebih besar daripada manfaatnya. Di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi syariat, baik pada fondasinya maupun bangunannya.
  2. Adapun berpartisipasi menggunakan hak pilih dalam pemilihan, maka hal ini dianjurkan oleh banyak ulama ahlussunnah, diantaranya; Syaikh Abdullah Bin Baz, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani, Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, Syaikh Al Luhaidan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Nashir Asy Syatsri, Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Syaikh Masyhur Hasan Salman, Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily, Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi, Al Lajnah Ad Daimah, dll.
  3. Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن, tidak termasuk mendukung sistim demokrasi.
  4. Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن tidak berarti bertanggungjawab terhadap hukum-hukum atau peraturan-peraturan yang timbul di kemudian hari.
  5. Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن, bahkan termasuk usaha untuk menempuh manhaj yang benar, karena mengikuti fatwa para ulama. Sebagai logika; Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membiarkan seorang badui yang kencing di masjid, meskipun hal itu termasuk kemudharatan karena menajiskan masjid, bahkan Nabi mencegah para sahabat yang hendak melarang arab badui tersebut -meneruskan- kencingnya, karena justru akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar. Jika ia tetap dilarang kencing-padahal sudah terlanjur mengeluarkan air kencingnya-, maka bisa jadi air kencingnya akan semakin berhamburan atau menyebar di masjid. Pada peristiwa ini, tidak boleh dikatakan bahwa Nabi mendukung kencing di masjid (penajisan masjid) dan tidak boleh pula dikatakan bahwa Nabi bertanggungjawab terhadap akan ternajisinya masjid yang merupakan dampak kencing di masjid.
  6. Menggunakan hak pilih berdasarkan kaidah ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْن hanya dimaksudkan untuk dan dalam rangka mengurangi keburukan-keburukan yang akan terjadi disebabkan sistim demokrasi. Dengan syarat kuatnya prasangka pemilih bahwa seseorang yang dipilih adalah orang yang paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia untuk kembali kepada Allah.
  7. Bagi kaum muslimin untuk mengikuti fatwa para ulama, karena mereka lebih matang keilmuannya, dan lebih mengetahui maslahat umum.
  8. Anjuran menggunakan hak pilih bukan berarti anjuran untuk terlibat langsung dalam kancah perpolitikan.
  9. Menganjurkan kepada kaum muslimin baik yang menggunakan hak pilih atau yang tidak menggunakannya agar selalu bersatu dan menjaga ukhuwah islamiyah serta menjauhi perdebatan yang hanya melemahkan kaum muslimin.
  10. Mengajak kepada kaum muslimin untuk selalu kembali dan mendakwahkan tauhid, bertawakal kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, apapun yang terjadi dan siapapun pemimpinnya, karena takwa kepada Allah-lah yang akan memberikan solusi.

Majlis Fatwa DPP PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

Ust Dr Firanda Andirja ( ketua )
Ust. Nafe Zaenuddin, Lc ( sekretaris)
Ust. Nizar Saad Jabal ( anggota )
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.