Polisi Yunani menangkap seorang pendeta Perancis yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak pengungsi di rumahnya

Ilustrasi (AlJazeera)
Polisi menangkap seorang pendeta Perancis yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak pengungsi di rumahnya, Thessaloniki, Yunani.

Lelaki 52 tahun dari Gereja Fransiskan Perancis, diduga mencabuli 4 anak laki-laki Pakistan yang tidak memiliki tempat tinggal. Korban terhitung remaja anak berusia antara 14 hingga 18 tahun.

Sebelumnya, anak-anak tersebut biasa tidur di sekitar stasiun kereta api Thessaloniki. Mereka ditawari oleh Pendeta tempat tinggal serta makanan, Januari lalu.

"Ketika ditanya, anak-anak mengatakan mereka mengalami pelecehan seksual berulang dan terus-menerus oleh pria itu", ujar juru bicara polisi kepada Al Jazeera, Rabu (22/2).

"Mereka (korban) mengatakan, pelaku mengambil keuntungan dari situasi ini (penampungan) untuk menyiksa korban secara seksual", lanjutnya

Dugaan pelecehan terungkap setelah korban melarikan diri dari rumah lelaki tua itu. Salah satunya kemudian mengungsi ke pusat imigran Thessaloniki.

Di sanalah korban mengungkapkan kekerasan seksual yang dideritanya kepada pengurus tempat itu.

Setelah menggeledah rumah pelaku, polisi menyita enam hard drive dan satu USB.

Polisi juga menemukan puluhan tablet obat yang termasuk dalam larangan hukum Yunani tentang zat adiktif.

Pendeta Perancis tersebut didakwa atas pelecehan seksual dan kepemilikan/penggunaan obat-obatan terlarang.

Tiga dari empat korban saat ini tinggal di pusat penampungan imigran milik NGO setempat. Satunya lagi tinggal di kamp pengungsi Diabata, menurut polisi.

Sekitar 62.000 pengungsi dan migran saat ini terdampar di Yunani karena penutupan pintu masuk Eropa setelah ada kesepakatan antara Uni Eropa-Turki, Maret 2016.

Ketika perbatasan ditutup, lebih dari 2.500 anak-anak terjebak di Yunani, ungkap Lora Pappa, kepala METAdrasi, sebuah badan amal lokal.

Menurut Lora, banyak dari anak di bawah umur belum terdaftar atau tanpa wali.

"Meskipun telah ada upaya (pendataan), (namun) lebih dari 1.200 anak-anak masih berada di luar fasilitas dengan kondisi yang sangat sulit...", ujar Lora.

"Kasus menyedihkan, seperti (pencabulan) di Thessaloniki, terjadi ketika tidak ada kontrol", jelasnya.

Ratusan anak-anak tanpa pendamping memiliki risiko tinggi dan ketidakpastian.

Mereka yang resmi mendaftar ke otoritas Yunani akan ditangani oleh polisi.

Tapi, meski berhak atas perlindungan, mereka kerap berhadapan dengan penahanan sewenang-wenang dan perlakuan kasar.

"Ini adalah masalah... Mereka terpaksa berbohong tentang usia kepada pihak berwenang agar menghindari kondisi sulit", ujar Eva Cosse, dari Human Rights Watch Yunani.

"Mereka tidak terlindungi. Mereka tidur dimana saja, kurangnya akses terhadap pendidikan, dan rentan terkena pelecehan seksual, perdagangan manusia maupun tenaga kerja ilegal", lanjut Cosse.

"Yunani perlu merevisi seluruh sistem dan layanan untuk melindungi migran tanpa wali dewasa atau anak-anak pencari suaka", ujarnya. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.