2015, lebih dari 65.000 orang hilang di tangan anggota aparat keamanan rezim melalui tindakan "terorganisir" dan "sistematis"

Lima wanita Suriah melaksanakan aksi di depan markas PBB Jenewa dengan membawa foto kerabat mereka yang menghilang (Al-Jazeera)

Lima wanita Suriah melaksanakan aksi di depan gedung PBB Jenewa dengan berdiri diam memegang foto kerabat yang tak diketahui nasibnya.

Mereka menuntut utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengangkat isu tahanan dalam perundingan damai.

Para ibu itu memegang foto kerabat mereka yang hilang oleh pasukan keamanan Assad selama perang.

Amina Kholani, seorang mantan tahanan, akhirnya memecah kesunyian.

"Kami adalah Keluarga untuk Kebebasan. Kami keluarga Suriah, menuntut kebebasan bagi putra dan putri bangsa. Kami menentang penghilangan dan penahanan paksa oleh rezim Suriah dan pihak lainnya dalam konflik", katanya.

Mereka meminta de Mistura menekan pihak Assad dan oposisi, agar segera merilis daftar nama tahanan, beserta lokasi dan keadaan mereka saat ini, juga menghentikan praktik penyiksaan.

Mereka menyerukan transparansi sertifikat kematian dan laporan rinci penyebab kematian dari orang yang meninggal di tahanan.

Tidak ada perkiraan pasti mengenai jumlah korban tewas akibat penahanan pemerintah maupun oposisi selama enam tahun ini. Meski jumlah terbesarnya adalah akibat penangkapan oleh rezim.

Kelompok-kelompok hak asasi berusaha telah meneliti terorganisirnya penculikan yang dilakukan oleh rezim.

Tahun 2015, lebih dari 65.000 orang hilang secara paksa oleh aparat keamanan rezim lewat tindakan "terorganisir" dan "sistematis", menurut Amnesty International.

Tujuannya penculikan itu adalah untuk membungkam perbedaan pendapat.

Penghilangan paksa seseorang dilakukan oleh agen negara, keberadaannya kemudian disembunyikan serta ditolaknya bentuk perlindungan hukum bagi mereka.

"Inilah sekelompok ibu, saudara perempuan, istri ... yang memiliki keluarga dalam tahanan", ujar Fadwa Mahmoud, seorang bekas tahanan yang belum mengetahui nasib suami dan anak sulungnya sejak empat tahun lalu.

Suaminya, aktivis politik Abdel Aziz al-Khayer, ditahan bersama anaknya, Maher, saat melakukan perjalanan pulang dari bandara, 20 September 2012.

Maher sempat menelepon ibunya memberi kabar bahwa ia dan ayahnya sedang dalam perjalanan pulang.

Namun setelah itu, Fadwa tak pernah lagi mendengar kabar keduanya.

Ia mengklaim telah berbicara dengan pejabat PBB, Palang Merah dan Uni Eropa agar mendapatkan informasi, tapi belum ada yang berhasil.

"Saya sudah bertemu de Mistura beberapa kali, dan saya bertemu Brahimi sebelumnya. Tak satu pun dari mereka bisa mengatakan apa-apa", kata Fadwa. Lakhdar Brahimi adalah utusan PBB untuk Suriah sebelum de Mistura.

Meski usianya sudah 63 tahun, tapi Fadwa masih tidak menyerah, ia juga menjabat sebagai penasihat Komite Negosiasi tinggi (HNC).

"Kami hanya lima wanita di sini (Jenewa), tapi kami memiliki ribuan pendukung di Suriah. Kami berbeda dengan politisi yang mengklaim berbicara atas nama rakyat. Kami adalah perwakilan nyata, bukan politisi"., ujarnya.

Fadwa berharap tekanan internasional bisa memunculkan solusi bagi masalah tahanan.

De Mistura sendiri berpartisipasi dalam pembukaan "aksi bungkam" para ibu itu, Kamis (23/2).

Kepada wartawan, ia mengatakan: "Yakinlah bahwa kami akan terus mengangkat isu tahanan, penculikan, dan orang hilang selama pembicaraan damai".

"Ada ribuan ibu, istri, anak perempuan ... yang berharap bahwa aspek (kejelasan tahanan) akan menjadi satu manfaat negosiasi", kata de Mistura. (Al-Jazeera).
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.