UEA berambisi membangun koloni di Mars tahun 2117. Sepekan kemudian, NASA mengumumkan penemuan 7 planet di luar tata surya yang berpotensi kehidupan

Pengumuman resmi oleh NASA (Al-Jazeera)
Baru-baru ini Uni Emirat Arab (UEA) menghebohkan dunia dengan ambisi menciptakan koloni di planet Mars pada tahun 2117 mendatang.

Dalam tingkat tertentu tidak mengejutkan, karena Mars adalah planet kedua terdekat dengan bumi setelan Venus.

Kondisinya juga tidak seekstrem planet-planet lain di tata surya, sehingga lebih mudah membangun peradaban tertutup.

Masalah menuju Mars saat ini adalah jarak dan biaya. Meski manusia (NASA) sukses mendaratkan robot, tapi belum ada manusia yang mendarat di sana. Perjalanan tercepat bisa makan waktu hingga 1 tahun. Misi robot 'Curiosity' memakan waktu tempuh hingga 8 bulan.

Selain itu, belum dipastikan sumber daya alam apa yang bisa dieksploitasi UEA di Mars untuk menutup ongkos pembangunan koloni dengan menghidupkan aktivitas ekonomi.

Mimpi ilmuwan mencari planet baru untuk alternatif habitat sebenarnya telah berlangsung lama. Bahkan di luar tata surya ini.

Apalagi mereka berpendapat kehidupan di bumi berisiko besar. Tidak aman jika habitat kehidupan kompleks terkungkung di satu planet.

Ibarat Badak Jawa yang terbatas di ujung Kulon dekat Krakatau. Sekali terjadi bencana mematikan, populasi Badak akan punah selama-lamanya.

Maka, mereka bermimpi memiliki planet baru untuk menyebarkan "benih" kehidupan. Syarat plenetnya adalah semirip mungkin dengan bumi.

Ada air (wujud cair), berjarak pas ke bintang induk, ada atmosfer (komposisi rendah gas beracun), planet batuan, ukuran tak berbeda jauh dengan bumi sehingga gravitasinya aman dan seterusnya.

Pekan ini, kelompok ilmuwan internasional mengumumkan penemuan tujuh planet batu dengan potensi air dan adanya kehidupan lain.

Planet-planet itu seukuran Bumi atau lebih kecil. Jaraknya diperkirakan sekitar 40 tahun cahaya.

Pengumuman dilakukan di markas NASA, Washington DC, AS dan diterbitkan dalam jurnal Nature, Rabu (22/2).

"Dalam mencari kehidupan di tempat (planet) lain, sistem (galaksi) ini mungkin penemuan terbaik kami selama ini", kata Brice-Olivier Demory, profesor dari Universitas Bern untuk Pusat Ruang Angkasa dan Zona Layak Huni.

Meski data masih sangat terbatas, planet-planet itu dianggap termasuk dalam zona layak huni.

Demory mengatakan, teleskop masa depan akan memungkinkan mendeteksi ozon jika ada di suatu planet. Ozon bisa menjadi indikator untuk aktivitas biologis di planet, tetapi tanda-tanda kehidupan sulit dipastikan.

Penemuan kali ini menjadi rekor baru jumlah terbanyak planet "layak huni" di satu bintang tunggal, menurut NASA.

Planet-planet tersebut berada di sekitar Trappist-1, bintang berukuran kecil dan relatif dingin.

Ukuran Trappist-1 sepersepuluh Matahari dengan temperatur setengah suhu matahari.

Tiga planet yang diamati suhunya mungkin cukup sejuk bagi wujud cair air dan peluang kehidupan, di luar fakta bahwa orbit mereka berdempet.

Tujuh planet mengorbit ke bintangnya pada jarak yang lebih dekat dibanding Merkurius (planet pertama tata surya) ke Matahari.

Seringnya kesejajaran dengan bintangnya itu bagi pengmat bumi, memunculkan peluang pengamatan dan pengumpulan data.

Trappist-1 ditemukan ketika para astronom melihat planet yang melewatinya, menghalangi beberapa cahaya di teleskop.

"Penemuan ini memberi kita petunjuk bahwa menemukan Bumi kedua bukan hanya soal 'jika', tapi 'kapan'..", ujar Thomas Zurbuchen dari Direktorat Misi Sains NASA.

Akan tetapi, jarak planet-planet ini jutaan kali lebih jauh daripada Mars. Tidak ada satupun mesin dan teknologi manusia saat ini yang bisa menjangkaunya. (Al-Jazeera)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.