Pergiliran kekuasaan Arab Saudi dikenal sangat cepat dan murah, tanpa gejolak berarti. Tak ada pemilu, melainkan langsung dibaiat sebagai Ulil Amri

3 orang tertinggi di Kerajaan Saudi saat ini
Arab Saudi merupakan salah satu negara Islam modern paling kaya di dunia yang menerapkan sistem Kerajaan.

Tapi, Kerajaan ber-syari'at Islam ini punya perbedaan dengan sistem kerajaan lain di dunia. Karena pergiliran kekuasaannya tidak diturunkan secara vertikal garis darah.

Kekuasaan negara didasarkan pada sistem klan atau keturunan al-Saud, bukan dari ayah ke anak melalui urutan permaisuri dan selir.

Pangeran pewaris tidak ditentukan dari "tingkatan" ibu yang dinikahi Raja. Karena dalam hukum Islam, jika seseorang menikahi lebih dari 1 istri maka haknya sama seutuhnya, termasuk hak anak-anaknya.

Bahkan, pewarisan dari ayah ke anak hanya terjadi di masa Raja Abdulaziz al-Saud kepada putranya, Saud.

Setelah Raja Saud, kekuasaan Saudi selalu beralih ke tangan adik-adiknya, atau sesama putra Abdulaziz.

Saud yang pemerintahannya bermasalah, diganti oleh Raja Faisal lewat pemakzulan paksa yang didukung Ulama.

Raja Faisal kemudian terkenal atas keberaniannya mematikan industri Barat dengan embargo minyak saat perang Arab-Israel tahun 1973.

Tetapi ia dibunuh oleh keponakannya sendiri pada 1975, banyak teori konspirasi akan hal ini.

Raja Faisal segera diganti adiknya, Khalid, yang menjabat putra mahkota. Sementara pangeran Fahd naik menjadi putra mahkota.

Saat itu, pangeran Fahd memiliki 2 kakak laki-laki yang lebih tua, tapi mereka dianggap kurang layak dalam pemerintahan. Sehingga tidak ada yang dipilih menjadi putra mahkota.

Raja Khalid meninggal pada 13 Juni 1982, kekuasaan beralih cepat ke Raja Fahd.

Fahd telah berpengalaman dalam pemerintahan karena menjabat sebagai wakil perdana menteri membantu kakaknya (di Saudi, Raja juga menjabat perdana menteri atau kepala pemerintahan).

Raja Fahd meninggal tahun 2005, digantikan adiknya, Raja Abdullah.

Tahun 2007, Raja Abdullah mempertegas aturan pergantian kekuasaan di negaranya.

Keputusan ini menguraikan cara kerja sebuah komite untuk mengangkat raja Saudi dan pangeran yang jadi putra mahkota.

Anggota komite haruslah ahli waris laki-laki (keturunan langsung) dari pendiri kerajaan, Raja Abdulaziz al-Saud.

Aturan dirancang agar memuluskan transisi kekuasaan serta mencegah sengketa kepemimpinan yang pernah meletus di masa lalu.

Di bawah peraturan baru, komite bai'at akan menggelar pertemuan setelah kematian raja untuk mengangkat putra mahkota menjadi raja.

Ulil Amri baru ini diberi waktu 10 hari menentukan nama putra mahkota pengganti dan menginformasikan kepada komite.

Sebelumnya, pergantian kekuasaan diputuskan lewat kesepakatan tak resmi di dalam keluarga al-Saud yang bersifat tertutup. Hal ini sering tidak jelas dan memunculkan spekulasi perebutan.

Raja dan Perdana Menteri Arab Saudi saat ini adalah Raja Salman bin Abdulaziz yang naik tahta 23 Januari 2015 lalu, setelah kakaknya Abdullah mangkat.

Sebetulnya Raja Salman bukan putra mahkota terpilih ketika Raja Abdullah baru naik tahta.

Namun, dua putra mahkota sebelumnya lebih dahulu meninggal, yaitu pangeran Sultan dan Nayef, yang merupakan kakak kandung Raja Salman.

Saat ini, putra mahkota Arab Saudi dipegang Muhammad bin Nayef, keponakan Raja. Sedangkan wakil putra mahkota ditempati Muhammad bin Salman, putra Raja.

Bin Nayef adalah putra mahkota pertama dari cucu Raja Abdulaziz. Ia dipilih Raja Salman menggantikan pangeran Muqri.

Secara umum syarat-syarat menjadi Raja dan putra mahkota Saudi adalah:

1. Keturunan laki-laki Abdulaziz al-Saud
2. Didukung para Ulama
3. Punya pengalaman di pemerintahan
4. Sosok yang Islami
5. Didukung klan al-Saud
6. Dikenal masyarakat
7. Didukung tokoh penting (saudagar, pengusaha, kepala suku dll)

Setelah terpilih, Raja baru akan dilantik dan dibaiat oleh masyarakat. (BBC/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.