Jika kemarau membuat panen gagal, maka akan terulang bencana kelaparan menakutkan seperti tahun 2011. Saat itu lebih dari seperempat juta orang meninggal

Pekan lalu, PBB memperingatkan bencana kelaparan baru yang mungkin terjadi di Somalia.

Jika kemarau membuat panen gagal, maka akan terulang bencana kelaparan menakutkan seperti tahun 2011. Saat itu lebih dari seperempat juta orang meninggal.

"Di daerah yang terkena dampak terburuk (kecilnya) curah hujan, pasokan air minim. Itu bisa mematikan tanaman dan membunuh ternak", kata PBB dalam sebuah pernyataan.

"Warga terpaksa menjual aset mereka agar bisa meminjam makanan maupun uang untuk bertahan hidup", lanjut pernyataan.

Berbagai badan kemanusiaan sangat prihatin atas krisis kekeringan ini.

Sementara 365.000 balita menderita kekurangan gizi akut, bahkan 71.000 anak-anak membutuhkan bantuan mendesak.

"Tahun lalu kasus ini jauh lebih sedikit. Namun karena adanya kekeringan, warga mulai menggunakan segala jenis air", ujar Dr Abdullah Yusuf, koordinator medis untuk Rumah Sakit Regional Baidoa.

Safia Adan (4) adalah satu pasien di RS tersebut.

Anak itu terpaksa menggunakan tabung melalui hidungnya akibat menderita gizi buruk dan dehidrasi. Menurut neneknya, Safia sakit setelah minum air dari sumur setempat.

"Airnya berubah warna tapi kami masih meminumnya... Kami berhenti (mengkonsumsi) setelah Safia menjadi sakit. Kami membawanya ke kota untuk mendapatkan perawatan", ujar sang nenek.

Safia termasuk beruntung. Tujuh orang dari desanya telah tewas. Menurut RS, terjadi lonjakan pederita diare dan kolera dari kalangan anak-anak, akibat kuman yang mungkin berasal dari konsumsi air tak layak.

Sebagai catatan, bencana kekeringan Somalia mendera lebih dari enam juta orang, atau hampir setengah populasi negara saat ini.

Mereka tak ada hentinya menghadapi masalah kekurangan pangan dan infeksi mikroba pada persediaan air yang sebetulnya sudah minim.

Berikut beberapa foto yang dirilis oleh Al-Jazeera :

Amina Ibrahim sedang menjaga cucunya, Safia (4). Keluarga Safia berjalan dari desa Masuubiye menuju RS. Safia diduga sakit setelah mengkonsumsi air dari sumur desa yang telah berubah warna.

Kondisi di RS Regional Baidoa. Banyak dari mereka terserang diare atau kolera

Salah satu pasien anak di pusat rehabilitasi kurang gizi yang menderita diare

Para ibu sedang diberi peajaran mengenai pentingnya ASI di klinik kesehatan Baidoa

Warga yang berada di kamp pengungsian internal. Warga yang datang kesini karena tidak bisa mendapatkan makanan sehari-hari. "Kami makan sehari sekali menggunakan uang yang dikirim suami saya dari Mogadishu" ujar Binta Sheikh Nur.
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.