AS akan mengeliminir wujud ancaman Iran baru-baru ini, namun akan mempertahankannya sebagai poros ketiga yang memecah fokus negara Arab pada Israel

Mantan Menlu AS, John Kerry, bertemu Menlu Iran Javad Zarif
Selama ini, dunia Islam mainstream secara sederhana menganggap si Paman Sam sebagai musuh atau 'kafir harb' karena banyak melakukan pembunuhan.

Akibatnya, menjadi absen membaca cara AS memandang Timur Tengah.

Pertama, AS ingin Timur Tengah tenang dan stabil untuk sekutu utamanya, Israel.

Kedua, AS ingin Timur Tengah tenang dan stabil untuk kepentingannya. Ini urusan duit dan SDA dengan sekutu kawasan, yaitu negara-negara Arab.

Inilah perbedaan mendasar persekutuan AS-Israel dan dengan Arab.

Israel di nomor 1, karena dilandasi ikatan "nilai" dan lobi kuat Yahudi. Walaupun terus merugikan AS, Israel akan tetap diemong dan ditimang-timang supremasinya.

Sedangkan "persekutuan" Paman Sam dengan Arab adalah soal keuntungan yang dihitung, duit dan SDA.

Contoh paling baru adalah blacklist visa dan imigran oleh Trump yang menyasar beberapa negara Arab serta Afrika Utara.

6 negara memiliki masalah dalam negeri dan minim berkontribusi bagi ekonomi dalam negeri AS.

Kebijakan AS di bawah Trump menunjukkan pertimbangan untung rugi, Arab yang menguntungkan tidak mungkin masuk daftar larangan.

Iran memecah konsentrasi Arab
Hingga tahun 1970-an, fokus kubu di Timteng adalah Arab vs Israel.

Peta berubah pada 1979 ketika Khomeini sukses meluncurkan revolusi Syi'ah.

Fokus Arab terpecah, terutama negara-negara berkantong tebal (Saudi dll) dan Iraknya Saddam Hussein.

Saddam yang didukung negara Arab lain melancarkan perang melawan Iran pasca Khomeini berkuasa.

Iran juga pesaing dalam bisnis minyak.

Hingga akhir hayat, Saddam yakin Iran lebih berbahaya daripada AS sendiri.

Tahun 1979, Iran muncul jadi kubu ketiga di Timteng, selain Israel dan Arab. Menciptakan keseimbangan baru yang lebih variatif. Mengurangi potensi konfrontasi ke arah Israel.

Di masa Obama, Sunni Arab melihat AS membiarkan Iran. Puncaknya adalah saat tercapai kesepakatan nuklir tahun 2015 lalu. Sejumlah sanksi dicabut AS.

Arab dan Israel memandang kesepakatan itu tidak menihilkan ancaman. Iran punya hak terbatas mengembangkan teknologi nuklir, asal diemong Rusia. Ini tidak melarang total.

Mengapa Arab dan Israel bisa sama-sama sepakat menolak persetujuan nuklir Iran? Apakah Arab jadi teman Zionis?

Tentu saja tidak, meski sama-sama menolak, tapi motifnya berbeda.

Arab memang memandang Persia Iran sebagai ancaman. Sedangkan yang ditakutkan Israel, jika Syi'ah sebagai "anak didiknya" itu sudah "sok-sokan", maka Arab akan menuntut hal serupa kepada dunia, bahkan lebih.

Akhirnya terjadi perlombaan senjata dan penguasaan teknologi, termasuk rudal balistik, di Timur Tengah.

Arab punya alasan meningkatkan kemampuan militernya secara besar-besaran, yaitu merespon ancaman Syi'ah di tanah Persia.

Tentu saja Israel ikut ketar-ketir kalau perlombaan terus terjadi.

Seperti itulah gambaran umum kondisi yang dibuat Obama. Syi'ah merajalela. Iran bebas berulah di berbagai negara.

Teheran menghidupkan hegemoni Syi'ah di Timur Tengah, mengganggu negara-negara Arab.

Teheran mendukung secara ilegal berbagai milisi Syi'ah, seperti di Yaman dan Hezbollah. Tapi Obama acuh pada hal itu.

Bahkan di Irak, Obama dan Iran bisa bekerja sama untuk alasan memerangi kelompok teroris ISIS. Milisi Syi'ah menguat.

Pengaruh Iran di Irak seperti tak terbendung.

Donald Trump ingin mengembalikan kestabilan versi partai Republik, dengan menyikat semua yang dianggapnya "sok-sokan".

Caranya adalah dengan menghukum dan mengisolasi ketat lagi mereka.

AS akan mengeliminir wujud ancaman Iran baru-baru ini agar membuat Arab "lebih tenang", namun akan mempertahankannya sebagai poros ketiga yang memecah fokus negara Arab pada Israel.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.