Siapakah KH Ma'ruf Amin sehingga perlakuan Ahok di persidangan memantik kecaman masif?

Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin

Nama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin belakangan santer menjadi perbincangan masyarakat.

Semua barawal dari kesaksian sang Kyai dalam sidang kasus dugaan penistaan agama yang menjerat terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dalam persidangan itu, Ahok dinilai melakukan intimidasi terhadap tokoh nomor 1 yang mewakili umat Islam Indonesia itu.

Dengan ciri khas frontal, Ahok mengkritik dikeluarkannya sikap Keagamaan MUI yang dipimpin Kyai Ma'ruf.

Kubu Ahok menuding, putusan MUI tidak memenuhi syarat dan tidak netral. Pasalnya, Kyai Ma'ruf disebut-sebut sempat ditelepon oleh SBY, ketum partai Demokrat, yang mencalonkan Agus-Sylvi sebagai pesaing Ahok.

Kubu terdakwa penista agama itu juga menuduh fatwa yang dikeluarkan menyalahi prosedur atau "tergesa-gesa".

Kyai Ma'ruf yang menjadi saksi dituding memberikan keterangan yang tidak semestinya.

Kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat menuding Kyai Ma'ruf menerima telepon dari SBY yang meminta MUI mengeluarkan fatwa soal ucapan Ahok yang mengutip surat Al Maidah ayat 51.

"Saksi tidak mengakui telah mendapat telepon dari SBY yang meminta antara lain agar PBNU menerima paslon (pasangan calon) nomor satu Agus-Sylvi dan agar MUI mengeluarkan fatwa untuk kasus Basuki Tjahaja Purnama", katanya.

Sedangkan Ahok mengatakan, pengacaranya memiliki bukti tentang adanya telepon dari SBY kepada ketua MUI itu agar bertemu dengan Agus-Sylviana. Meski, KH Ma'ruf Amin membantah adanya telepon itu (fatwa pesanan).

"Saya berterima kasih, saudara saksi ngotot di depan hakim bahwa saksi tidak berbohong, kami akan proses secara hukum saksi untuk membuktikan bahwa kami memiliki data yang sangat lengkap", kata Ahok dalam persidangan itu.

Ahok mengatakan, Ketua MUI sudah mempermainkan haknya.

"Percayalah, sebagai penutup, kalau anda menzhalimi saya, yang anda lawan adalah Tuhan yang Mahakuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan satu per satu dipermalukan. Terima kasih", ujar Ahok.

Ahok sudah minta maaf dan menegaskan tidak akan melaporkan ke polisi.

Namun sebagai tokoh agama, Kyai Ma'ruf dinilai tidak layak diberlakukan seperti itu.

Siapakah KH Ma'ruf Amin sehingga perlakuan Ahok di persidangan memantik kecaman masif? Dan kubu "si Tengil" Ahok menjadi gentar?

Kyai saat ini tercatat menyandang dua jabatan penting. Pertama adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia.

Kapasitasnya sebagai orang nomor satu di lembaga inilah yang membuatnya dijadikan saksi dalam kasus Ahok.

Ia dimintai keterangan soal terbitnya pendapat keagamaan MUI yang menyebut adanya unsur penistaan Islam dalam ucapan Ahok di Kepulauan Seribu saat berkata "dibohongi pakai Al-Maidah 51".

KH Ma'ruf Amin memimpin MUI sejak tahun 2015 menggantikan Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum MUI. Ia lahir di Tangerang, 11 Maret 1943.

Sebagai ahli fiqih yang disegani, sebelum jadi Ketua Umum di MUI. Kyai Ma'ruf pernah menjadi Ketua Komisi Fatwa yang bertanggung jawab soal penerbitan fatwa.

Ma'ruf yang pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng ini disebut cicit dari Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang pernah menjadi Imam Masjidil haram.

Dalam catatan Wikipedia, Syaikh Nawawi adalah ulama yang hidup tahun 1730 hingga 1813. Para ulama Indonesia menyebut Syaikh Nawawi sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia. Ratusan buku pernah dia tulis semasa hidup.

Selain sebagi orang nomor satu di MUI, Kyai Ma'ruf juga menduduki jabatan tertinggi di Nahdlatul Ulama, organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia.

Jabatannya adalah Rais Am atau Ketua Umum dalam arti sebenarnya.

Sementara Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum PBNU, sebetulnya hanya lebih pada ketua pelaksana, meskipun cukup menonjol dalam roda organisasi.

Ia adalah salah satu alim ulama yang paling dihormati di kalangan Nahdliyin.

Selain sebagai ahli fiqih, Kyai juga dikenal sebagai politikus. Dalam daftar kariernya, ia pernah menjadi Ketua fraksi DPR/MPR dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Serta menjadi Ketua Dewan Syuro PKB.

Di masa Presiden SBY, Kyai Ma'ruf dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 2007 hingga 2014. Karena itulah dalam sidang ada tudingan kedekatan dirinya dengan SBY.

Kyai Ma'ruf Amin tidak seperti Kyai kharismatik NU kitab lain yang tidak tampil ke depan. Ia adalah sosok organisatoris gesit di usianya yang menginjak 73 tahun.

Ia ada di barisan depan atas masalah umat Islam dan bangsa Indonesia.

Hal itu bisa dilihat dari pertemuan MUI dengan pengelola media Islam, Kamis (2/2), Kyai Ma'ruf menyempatkan diri langsung menemui aktivis media dari bermacam latar belakang.

Mengajak pada sikap washatiyah (pertengahan) yang strategis dan menghasilkan maslahat umat Islam, terutama di bidang informasi.

Katib Syuriah PBNU Asrorun Niam Sholeh menyebut Ma'ruf sebagai "Top of the top pimpinan Ulama Indonesia dan panutan mayoritas umat Islam Indonesia".

Oleh sebab itulah, ketika Kyai dirasa telah direndahkan oleh kubu Ahok, kemarahan bukan hanya datang dari NU, tapi hampir seluruh umat Islam di Indonesia.

Situs-situs Islamis berbagai firqah ramai-ramai memuat berita yang mengecam Ahok. "Wahabi", Aswaja Asyariyah, Muhammadiyah dan afiliasi gerakan Ikhwani  (IM), sepakat membela tokoh nomor 1 yang mewakili umat Islam Indonesia ini.

Kubu Ahok setelah "sikut" ulama
Pasca sidang, pasukan Ahoker medsos dan situs pro Ahok langsung menjadikan Kyai Ma'ruf Amin sebagai sasaran tembak kritikan, hujatan dan sindiran.

Ternyata Ketua MUI juga adalah Rais Am NU, menyudutkan Kyai Ma'ruf bukan hanya urusan MUI, tapi juga NU langsung.

Kubu Ahok memang menempatkan NU sebagai kelompok "netral", dari konfliknya dengan kelompok Islamis lain selama ini.

Kalangan Nahdliyin segera bereaksi atas kabar intimidasi pada Kyainya di persidangan. Ini bukan kabar baik bagi kubu Ahok.

Sebabnya, entitas NU bukan seperti FPI yang bisa diframing sebagai kelompok "garis keras". Bermasalah dengan NU bisa langsung membuat Ahok tamat.

Ahok dengan percaya diri sempat menolak meminta maaf. Ia mempertanyakan mengapa harus minta maaf.

"Aku nggak ngerti kenapa kita yang minta maaf. Itu yang penghasut adu domba, yang adu domba kan jubir, memang kita ada apa? Nggak ada apa-apa, makanya harus meredakan suasana itu yang adu domba itu yang dilempengin", kata Ahok.

Ia merasa ada yang ingin membenturkannya dengan PBNU.

"Aduh itu ya, saya pikir itu kacau juga tuh, gini ya, politik sama Pilkada itu jadi sadis tahu nggak. Ini orang tua, ini pak kiai. Rais PBNU lagi. Selama ini kan NU yang paling bela saya", lanjutnya.

Suasana yang makin memanas pasca persidangan, membuat "ketengilan" Ahok luntur. Permintaan maaf segera diluncurkan melalui surat.

Ia mengaku menghormati NU dan Kyai Ma'ruf Amin sebagai sesepuhnya, sebagaimana ia menghormati Gusdur dan Gus Mus.

Gertakan melaporkan pada polisi dibantahnya. Ia berkilah, isu tersebut adalah kesalahpahaman orang. Yang ingin dilaporkannya adalah saksi pelapor, bukan saksi dari Ketua MUI.

Tak kurang, Ahok juga merilis video "minta maaf" dan klarifikasi. Isinya tak jauh berbeda dengan isi surat.

Kyai Ma'ruf Amin memaafkan, dan berpesan agar semuanya menjaga kekondusifan.

"Ya harus dimaafkan, kalau memang minta maaf.. Jangan terprovokasi. Jaga keadaan bangsa dan negara supaya kondusif. Semuanya jangan membuat hal yang bisa merusak keadaan", kata Kyai.

Dalam konferensi pers hari Kamis (2/2), menjawab pertanyaan wartawan, pihak MUI memandang permintaan maaf kubu Ahok tidak tuntas. Sebabnya serangan medsos Ahoker di dunia maya terus terjadi.

Dari pantau Risalah, buzzer Ahok memang menyerang ketua MUI dengan opini mereka.

Tetapi, pola segera berubah. Ketika KH Ma'ruf Amin memaafkan, mereka segera menggiring opini agar masalah itu dilupakan.

Para Ahoker berganti opini, mereka berbalik menyalahkan pihak-pihak yang masih mempersoalkan sikap Ahok dan kuasa hukumnya.

Kyai Ma'ruf tolak bertemu Ahok
Di sisi lain, Kyai Ma'ruf Amin mengatakan tak bisa tidak memaafkan siapa pun yang meminta.

Namun soal sikap umat Islam yang masih mengecam Ahok, ia tak bisa memaksanya. Menurut Kyai, umat punya haknya sendiri.

Kyai mempersilakan umat apakah mau memaafkan atau tidak.

"Apalagi ada satu kaidah, orang yang dibuat marah tidak marah, itu keledai; kalau dimintai maaf tidak memaafkan, itu setan. Tapi saya tidak mau menyuruh umat untuk memaafkan. Itu urusan umat. Saya silakan umat. Untuk saya pribadi, izinkan saya untuk menyampaikan kata maaf itu", kata Kyai dikutip Republika.

Terkait rencana bertemu terdakwa penista agama, Ahok, Kyai mengungkapkan memang menolak upaya pihak yang ingin mempertemukannya dengan Ahok.

"Saya bilang mohon maaf, untuk hari-hari ini saya belum bisa. Saya takut umat salah paham. Nanti saya malah dimarahi umat", katanya. (Liputan6/Kompas/Detikcom/Republika/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.