Turki mengkritik Iran, bahwa mereka ingin mengubah Irak dan Suriah menjadi wilayah Syi'ah

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Turki Huseyin Muftuoglu (Anadolu Agency)
Iran memanggil duta besar Turki di Teheran pada Senin (20/2). Pemanggilan ini mengenai komentar yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Presiden Tayyip Erdogan.

Mereka menuduh Republik Syi'ah Iran merusak stabilitas wilayah Timur Tengah.

Walau saling berbisnis, Teheran dan Ankara juga mendukung pihak yang berlawanan dalam konflik, seperti di Suriah.

Iran dengan mayoritasnya memeluk Syi'ah, mendukung rezim Basyar al-Assad yang didominasi oleh unsur Syi'ah Nushairiyah (Alawite).

Sementara Turki mendukung kelompok oposisi Suriah, yang sebagian besar adalah representasi warga Muslim (Ahlusunnah).

Inilah yang memicu perang komentar dan diplomatik kedua negara.

Minggu (19/2), PM Cavusoglu mengatakan dalam Konferensi Keamanan di Munich, bahwa "Iran ingin mengubah Suriah dan Irak menjadi (basis) Syi'ah".

Cavusoglu juga mengatakan, Turki meminta Iran menghentikan bentuk ancamannya terhadap stabilitas dan keamanan di kawasan itu.

"Kami akan bersabar dengan posisi mereka. Tapi ada batas tertentu pada kesabaran kami", ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Ghasemi, Senin ini.

Kementerian luar negeri Turki menanggapinya, dengan mengatakan bahwa Iran harus "merevisi kebijakannya" di kawasan dan mengambil langkah konstruktif, bukan malah mengkritik balik Turki.

"Ini tidak bisa diterima atau dipahami, bahwa negara (Iran), yang bahkan tidak ragu mendorong pengungsi (kembali) ke zona perang, bisa menuduh orang lain bertanggung jawab atas ketegangan dan ketidakstabilan kawasan", kritik jubir Kementerian Luar Negeri Turki, Huseyin Muftuoglu.

Seperti diketahui, Iran dan milisi Syi'ah pernah menghalangi pengungsi Aleppo timur saat akan keluar dari kota.

Namun, Wakil Perdana Menteri Turki yang juga juru bicara pemerintah, Numan Kurtulmus, memiliki pendapat lebih lunak.

"Iran dan Turki adalah negara sahabat. Mungkin terdapat perbedaan pandangan dari waktu ke waktu, tetapi tidak ada permusuhan akibat satu komentar", katanya.

"Bahkan jika ada perbedaan politik yang muncul, itu tidak perlu ditanggapi di luar proporsi", katanya.

Jika melihat ke masa lalu, bangsa Turki dan Iran sebetulnya pernah terlibat perang ratusan tahun.

Yaitu antara Kekhalifahan Turki Utsmani melawan kerajaan Shafawi Persia yang Syi'ah. (Reuters/Anadolu Agency/rslh)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.