Operasi pelayaran dilaksanakan di tengah ketegangan AS dan China soal teritori dan perdagangan

USS Carl Vinson menggunakan bahan bakar nuklir setelah pemugaran
Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Carl Vinson ke perairan sengketa Laut China Selatan, dalam rangka "operasi rutin" maritim.

Menurut pernyataan Angkatan Laut AS, pengangkut 60 pesawat tempur dengan bobot 97 ribu ton ini berlayar mulai Sabtu (18/2), didampingi oleh kapal penghancur Wayne E Meyer.

Operasi dilaksanakan di tengah ketegangan AS dan China soal teritori dan perdagangan, seiring sikap keras pemerintahan Donald Trump terhadap negara Komunis tersebut.

Menteri luar negeri baru AS, Rex Tillerson, menyebutkan, China mesti diblokir dari pulau-pulau buatannya di perairan tersebut.

Hal ini mungkin berpotensi membuka konfrontasi antara kedua negara Adidaya.

Rabu pekan lalu, Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah mendengar rencana pelayaran kapal induk AS itu dan memeringatkan Washington agar tidak mengganggu kedaulatannya.

"China menghormati dan menjunjung kebebasan navigasi dan penerbangan di Laut China Selatan, yang dinikmati sejumlah negara di bawah hukum internasional, tapi menolak dengan keras upaya negara manapun untuk melecehkan kedaulatan China dan keamanan atas nama kebebasan tersebut", kata juru bicara Kementerian, Geng Shuang, dikutip CNN Indonesia, Senin (20/2).

Laut China Selatan adalah rute pelayaran krusial bagi sejumlah negara yang memperebutkannya.

China memang mempunyai sejarah panjang soal persengketaan perairan tersebut. Mengklaim lebih dari 80% perairan dengan alasan "historis".

Termasuk pulau-pulau kecil dan karang yang berjarak lebih dari 1.000 km dari daratannya. China juga membuat sejumlah pulau buatan di kawasan itu dan menempatkan kekuatan militer.

Klaim sepihak Beijing ditentang para tetangganya seperti Filipina, Malaysia, Brunei dan Vietnam.

Menurut pemerintah AS, China sudah membangun kembali sebagian besar Kepulauan Spratly sejak 2014.

Meski Amerika tidak berpihak dalam sengketa laut ini, namun kapal-kapal perangnya melaksanakan operasi rutin "kebebasan berlayar" dekat pulau-pulau tersebut, serta memancing peringatan Beijing.

Kejadian terakhir dilakukan oleh kapal penghancur USS Decatur, Oktober lalu. Saat itu, China menyebutnya sebagai pelanggaran besar hukum dan provokasi yang disengaja.

Tapi belum diketahui apakah USS Vinson dan Meyer akan melakukan hal serupa. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Risalah

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.