Sejumlah pabrik ditutup atau dihentikan produksinya, karena China kelebihan jumlah produksi di tengah pergeseran permintaan global

Ilustrasi (Xinhua)
Perekonomian China tahun ini menghadapi ketidakpastian internasional dan kapasitas produksi pabrik berlebih, menurut biro statistik pada Selasa (28/2).

Pertumbuhan ekonomi negara yang dikendalikan partai komunis ini telah melambat selama enam tahun beruntun, atau jatuh dibanding rekor pertumbuhan pada 2010 yang melewati 10%.

China mengadopsi berbagai target pertumbuhan PDB untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua dekade.

Pada 2016, perekonomian China meningat sebesar 6,7%. Nilai ini turun dari tahun 2015, meski masih memenuhi target pemerintah yang berkisar pada 6,5-7%.

Penasihat Bank sentral Huang Yiping mengatakan, pemerintah harus menetapkan target yang lebih fleksibel bagi pertumbuhan 2017.

Hal tersebut dapat memberikan ruang untuk reformasi. Ia mengusulkan target berkisar 6-7%.

"Kami berharap China menetapkan target pertumbuhan PDB sekitar 6,5% untuk tahun 2017, dan mungkin bisa tumbuh 6,6% tahun ini", ujar Ding Shuang, ekonom China dari Standard Chartered.

Asian Development Bank memperkirakan, pertumbuhan China tahun ini berkisar di angka 6,4%, sedangkan Bank Dunia lebih optimis dengan prediksi sebesar 6,5%.

Meski ekspor China menunjukkan tanda-tanda pulih setelah kemerosotan beberapa tahun, namun kelesuan masih membayangi prospek permintaan global.

"Situasi internasional masih kompleks dan tidak stabil. Masih banyak ketidakpastian dan ada kontradiksi antara kelebihan kapasitas dalam negeri dengan peningkatan struktural", ujar Li Xiaochao, wakil kepala Biro Statistik Nasional.

Li menyoroti masalah penyesuaian ekonomi dunia menuju kestabilan baru, dengan perdagangan global yang lemah dan tren deglobalisasi.

China jauh melebihi target dalam mengurangi kelebihan kapasitas industrinya tahun lalu, dimana terjadi penutupan paksa pabrik baja dan tambang batu bara yang tidak efisien.

Mereka masih menerapkan target pengurangan produksi pada 2017 ini. Pengamat pasar mengatakan, banyak cara usang diganti dengan sistem berskala lebih kecil.

Menjaga inflasi tetap rendah bisa menguntungkan perekonomian China, karena tekanan harga mulai terjadi lagi secara global.

Inflasi konsumen naik menjadi 2,5 persen pada Januari (tertinggi sejak Mei 2014), sementara inflasi harga produsen melaju menjadi 6,9 persen (tercepat sejak Agustus 2011).

Selama beberapa tahun terakhir, ekonomi China terkatrol naik melalui reformasi dan inovasi berbagai hal.

Menurut Konferensi Kerja Ekonomi Pusat China, pemerintah setuju memperluas reformasi hingga ke daerah, termasuk merombak sistem pertanian, menghidupkan kembali ekonomi riil dan men-stabilkan sektor properti

Sekitar 57 persen dari 1,38 miliar warga China tinggal di kota-kota pada akhir 2016, menurut biro statistik dalam laporan ekonomi dan pembangunan sosial pada Selasa (27/2).

Tingkat urbanisasi ini naik 1,25 poin dari tahun sebelumnya.

Pemerintah berharap 60% penduduk China akan tinggal di perkotaan pada tahun 2020.

Penduduk usia kerja China berjumlah sekitar 907.500.000 jiwa pada akhir 2016, turun 3,5 juta dari tahun sebelumnya.

China adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia setelah AS. (Reuters/Xinhua)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.