Jika dibandingkan nilai utang 2014, dalam setahun jumlah utang era Jokowi tahun 2015 terjadi peningkatan 556,4 triliun

Indonesia mencatatkan penurunan rasio utang sejak era pemerintahan beberapa presiden.

Dimulai dari Presiden Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan terakhir pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Seperti dikutip Liputan6 dari data Kementerian keuangan, puncak rasio utang terjadi pasca tahun 1998, setelah krisis moneter menghantam Indonesia.

6 Presiden terakhir Indonesia

Saat itu, Presiden ke-2 Soeharto yang lengser di Mei 1998 meninggalkan utang Rp 551,4 triliun atau ekuivalen US$ 68,7 miliar. Dengan rasio mencapai 57,7 persen dari PDB.

Pemerintahan selanjutnya dipimpin oleh presiden BJ Habibie (1998-1999).

Di periode 1999, total outstanding utang Indonesia mencapai Rp 938,8 triliun atau setara dengan US$ 132,2 miliar. Rasio utang membengkak jadi 85,4 persen dari PDB.

Tampuk kepemimpinan berikutnya beralih ke tangan Gus Dur (1999-2001). Nilai utang pemerintah terus membumbung di periode 2000 menjadi Rp 1.232,8 triliun, meski dalam denominasi Dollar jumlahnya turun menjadi US$ 129,3 miliar.

Tapi ketika itu rasio utang makin parah menjadi 88,7 persen dari produk domestik bruto.

Di 2001, rasio utang turun menjadi 77,2 persen. Hanya saja, nilai utang naik tipis menjadi Rp 1.271,4 triliun atau US$ 122,3 miliar.

Gus Dur dimakzulkan dari kursi kepresidenan pada 2001 yang digantikan wapres Megawati Soekarnoputri (2001-2004).

Pada era pemerintahan Mega, posisi utang Indonesia dan rasio utang terhadap PDB, meliputi:

2002: Rp 1.223,7 triliun atau US$ 136,9 miliar, rasio utang 67,2 persen
2003: Rp 1.230,6 triliun atau US$ 145,4 miliar dan rasio utang 61,1 persen
2004: Rp 1.298 triliun atau US$ 139,7 miliar, rasio utang 56,5 persen

Kepemimpinan Republik Indonesia selanjutnya diserahkan kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pemilu presiden pertama.

SBY berkuasa selama dua periode, yakni periode I (2004-2009) dan periode II (2009-2014).

Di masa pemerintahan SBY, nilai utang terus meningkat, namun rasionya menurun tajam hingga angka terkecil 23%.

Disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat stabil sehingga terus mengerek PDB.

Perkembangan rasio dan nilai utang Indonesia era SBY:

2005: Rp 1.311,7 triliun atau US$ 133,4 miliar, rasio utang 47,3 persen
2006: Rp 1.302,2 triliun atau US$ 144,4 miliar dengan rasio utang 39 persen
2007: Rp 1.389,4 triliun atau Rp 147,5 miliar, rasio utang 35,2 persen
2008: Rp 1.636,7 triliun atau Rp 149,5 miliar, rasio utang 33 persen
2009: Rp 1.590,7 triliun atau US$ 169,2 miliar, rasio utang 28,3 persen
2010: Rp 1.681,7 triliun atau US$ 187 miliar, rasio utang 24,5 persen
2011: Rp 1.809 triliun atau US$ 199,5 miliar, rasio utang 23,1 persen
2012: Rp 1.977,7 triliun atau US$ 204,5 miliar, rasio utang 23 persen
2013: Rp 2.375,5 triliun atau US$ 194,9 miliar, rasio utang 24,9 persen
2014: Rp 2.608,8 triliun atau US$ 209,7 miliar, rasio utang 24,7 persen.

Setelah 32 periode, masa jabatan SBY habis. Melalui pilpres 2014, Jokowi naik tahta sebagai Presiden ke-7 (2014-2019).

Di akhir 2015, utang pemerintah pusat naik menjadi Rp 3.165,2 triliun atau US$ 229,44 miliar. Rasio utang terhadap PDB meningkat menjadi 27,4 persen.

Jika dibandingkan nilai utang 2014, dalam setahun jumlah utang era Jokowi tahun 2015 terjadi peningkatan 556,4 triliun.

Nilai tersebut secara nominal Rupiah lebih tinggi dari total utang yang ditinggal Soeharto (penyebab sekendernya bisa disebabkan jebloknya kurs Rupiah terhadap US$).

Kemudian sepanjang 2016, utang Indonesia tercatat naik lagi menjadi Rp 3.466,9 triliun atau setara dengan US$ 258,04 miliar. Rasio utang menjadi 27,5 persen dari PDB.

Namun meskipun secara angka nominal nilai utang naik, akan tetapi rasio utang pemerintah masih jauh dari batas maksimal yang ditetapkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yakni sebesar 60 persen dari PDB.

Sumber Liputan6 (DN)
(Liputan6)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.