Namun dengan cadangan devisa melimpih ruah, defisit anggaran 2015 dan 2016 belum berdampak apa-apa

Kota Mekkah
Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, membawa rombongan besar saat melawat ke Indonesia. Selain agenda kenegaraan, rombongan juga akan berlibur di Bali.

Kedatangan Raja Salman cukup menyita perhatian publik di Indonesia, khususnya karena berbagai barang pribadi yang dibawanya.

Menurut Forbes, Raja Salman memiliki harta yang cukup besar, yaitu $ 17 miliar atau sekitar Rp 226 triliun (kurs Rp 13.300/USD).

Harta ini kebanyakan dihasilkan dari perusahaan minyak juga beberapa perusahaan finansial milik keluarga kerajaan.

Selain itu, Raja Salman, juga mendapatkan kekayaan ketika diangkat sebagai raja menggantikan mendiang kakak seayahnya, Abdullah.

Harta Raja Abdullah sebesar $ 18 miliar kebanyakan diwariskan untuk pemerintahan Raja Salman.

Namun bagaimana kondisi ekonomi Arab Saudi saat ini?

Pasca anjloknya harga minyak dunia, dari tingkat tertinggi di pertengahan 2014 yaitu di atas $ 100/barel, menjadi saat ini di kisaran $ 50/barel, ekonomi Arab Saudi sangat terhantam.

Negara itu terdampak penurunan harga minyak dunia karena 70% pendapatannya berasal dari penjualan minyak, nilainya juga hampir setengah PDB.

Penurunan itu menyebabkan defisit APBN Saudi hingga 15% dari PDB atau setara $ 98 miliar pada 2015, kemudian turun jadi $ 79 miliar tahun lalu.

Pendapat per kapita peduduknya menyusut. Ekonomi 2016 hanya tumbuh kecil sekitar 1,4%.

Sejumlah perusahaan yang menjalankan proyek pemerintah terpaksa menunggak gaji, karena uang proyek belum dibayar oleh negara. Contohnya adalah bin Ladin grup, pada Mei 2016.

Ada beberapa cara penghematan yang dilakukan oleh Arab Saudi, salah satunya adalah pengetatan anggaran, menaikkan harga BBM di dalam negeri.

Defisit besar belum berdampak apa-apa saat ini karena cadangan devisa negara itu masih melimpah ruah.

Devisa Saudi pun terpangkas hingga menjadi $ 514 miliar. Dan ini belum termasuk nilai investasi swasta atau pemberian utang yang tidak dilaporkan.

Di bawah pimpinan pangeran Muhammad bin Salman, negara itu kemudian meluncur visi 2030 yang bermaksud mengurangi ketergantungan ekonomi dari minyak.

Ya terbaru adalah go public-nya BUMN minyak mereka, Aramco. Saham akan dilepas untuk menarik dana segar dari investor.

Beberapa poin penting dalam program reformasi tersebut antara lain:

Menjual sekitar 5% saham Saudi Aramco, BUMN minyak Arab Saudi yang nilai perusahaannya ditaksir US$ 2,5 triliun atau sekitar Rp 32.500 triliun.

Meski menurut penilik harga, nilai Aramco tak sampai $ 500 miliat, tapi kelebihannya, perusahaan itu punya akses ke ratusan miliar barel cadangan minyak Saudi.

Jika sukses, uang hasil penjualan saham Aramco sebagian digunakan sebagai modal investasi ke luar negeri.

IPO atau pelepasan saham perdana Aramco ditargetkan meraup $ 100 miliar.

Selain itu untuk mengerek ekonomi, diberlakukan sistem visa baru yang memungkinkan orang asing Muslim bekerja jangka panjang di Saudi

Diversifikasi ekonomi, mulai dari investasi di tambang mineral dan memproduksi peralatan militer
Hingga mengizinkan wanita bekerja.

Tahun lalu juga dilakukan perombakan kabinet besar-besaran. Tujuannya mencapai target perubahan ekonomi, yang tidak mau lagi bergantung pada minyak, dengan pejabat bervisi baru.

Tahun 2017, Saudi menginginkan harga minyak mentah di kisaran $ 60 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi karena membanjirnya pasokan di pasar internasional sejak akhir 2014.

Sebenarnya ini terjadi karena ulah Saudi sendiri yang menaikkan produksinya secara besar-besaran.

Meski demikian, pengamat menilai, hal ini juga bertujuan untuk menyokong kepentingan mereka.

Yaitu memukul industri minyak Iran yang masuk lagi ke pasar pasca pencabutan sanksi nuklir. Negara Syi'ah itu adalah pesaing bagi Saudi di kawasan, meski sesama anggota OPEC.

Lalu merugikan industri minyak Rusia yang merupakan penyokong Basyar al-Assad di Suriah sekaligus pesaing bagi OPEC, khususnya di pasar Eropa.

Serta membuat industri energi hidrokarbon saingan di Amerika Utara gagal berkembang.

Baru-baru ini Amerika Utara (AS dan Kanada) ditemukan cadangan energi cukup besar, yaitu pasir minyak (sand oil) maupun shale oil.

Namun industri pengerukan cadangan baru memerlukan harga sehat di pasar agar membawa untung. OPEC dan Rusia adalah pesaingnya. (Detikcom/CNN/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.